Spiga

Tampilkan postingan dengan label history. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label history. Tampilkan semua postingan

Maju, Mandiri, dan Sejahtera

Melalui perjalanan yang cukup panjang untuk tetap berkarya di negeri ini, pria yang telah mengemban beberapa jabatan struktural di pemerintah Kab. Kutai Kertanegara ini lantas tak puas begitu saja dengan serangkaian pengabdian yang sudah dilakukan di tanah tempat kelahirannya, yakni dengan satu goal visinya, yang tak lain adalah mewujudkan masyarakat Kutai Kartanegara yang maju, mandiri, dan sejahtera.

Sebagai salah satu kabupaten di tanah air yang memiliki sumber daya alam melimpah dengan potensi sumberdaya manusia yang majemuk di dalamnya, maka tak heran Kab. Kutai Kartanegara pun tak luput dari berbagai polemik yang terjadi dalam pengelolaan otonomi daerahnya, khususnya dalam ruang lingkup pemerintahan daerah yang kini sedang dirundung banyak permasalahan. Dan untuk ke-2 kalinya, Pilkada Kab. Kutai Kartanegara 2010 mendatang yang juga akan dipilih langsung oleh rakyat memang tidak menyurutkan semangat dari salah seorang putra bangsa terbaik, Drs. Fathan Djoenaidi, MM untuk mengembalikan Kutai Kartanegara pada better positionnya.

Tidak hanya sekedar ikut andil dalam pesta demokrasi pemilihan kepala daerah/wakil kepala daerah Kab. Kutai Kertanegara periode 2010-2015 mendatang, pria kelahiran Tenggarong, 5 Agustus, 60 tahun silam ini tentunya sudah dengan jeli melihat situasi dan kondisi Kutai Kartanegara saat ini dan kerap berusaha melangkahkan misi dan program kerjanya menuju ajang pemilihan bergengsi unjuk kemampuan dalam mengemban amanah yang mulia tersebut. Lalu, apa sebenarnya kunci dari perkara yang dihadapi Kutai Kartanegara saat ini ? Dengan lantang, bapak yang dikaruniai 2 orang putri dan seorang putra ini mengatakan bahwa yang dibutuhkan Kutai Kertanagara saat ini adalah pemimpin yang bijak, yang bisa merangkul seluruh lapisan masyarakat dan instansi terkait guna membangun kembali kejayaan Kutai yang hilang.

Ketika ditanya soal kiat-kiatnya dalam membangun Kutai, pria yang memperistri Adji Mussifah Hakim, SE ini dengan sigap menjawab, “diperlukan pembenahan di segala sektor dengan dukungan pembangunan infrastruktur yang terkonsep dan terarah pula” ujarnya. Dampak krisis global yang melanda dunia, turut memberikan pengaruh negatif pula bagi Kab. Kutai Kartanegara. “Para investor yang menarik kembali kerjasamanya menimbulkan masalah baru bagi kita, banyak masyarakat yang kehilangan mata pencaharian dan yang lebih ironisnya lagi, penyediaan sarana dan prasarana di desa-desa masih sangat minim. Hal tersebut dapat dilihat dengan tidak tersedianya fasilitas listrik,” papar pria yang aktif di berbagai organisasi pemerintah dan non-pemerintah ini ketika menceritakan pengalamannya terjun ke lapangan melihat fakta yang ada.

Jikalau nanti masyarakat Kab. Kutai Kartanegara memberi kesempatan kepadanya untuk mengelola kelangsungan otonomi daerah Kab. Kutai Kartanegara, pria yang aktif di bidang olahraga dan kesenian ini pun lantas mengemukakan harapannya untuk mensejahterakan masyarakatnya secara berkelanjutan. Selain itu, kinerja sumberdaya manusia di berbagai sektor kehidupan pun tentunya akan ditingkatkan pula.

Tidak ada strategi khusus yang ia lakukan guna memenangkan suaranya kelak. Pendekatan internal ke masyarakat luas kerap ia galakkan demi merealisasikan harapan masyarakat Kab. Kutai Kartanegara pada umumnya. Menurut pria yang berfilosofi hidup adalah perjuangan ini, segala sesuatu yang dicita-citakannya akan diraih dengan usaha yang maksimal pula. Oleh karenanya dalam hal ini hubungan antara stakeholder yang terkait dipastikan harus terjalin dengan baik. Maka dari itu, peran generasi muda pun sangat menunjang dalam hal ini. Putra-putra bangsa Kutai Kartanegara diharapkan dapat turut serta dalam membangun Kab. Kutai Kartanegara yang maju, mandiri, dan sejahtera.

The Spirit of Change by Promosi























The Spirit of Change by ProMOSI

Meski sibuk sebagai direktur utama di salah satu BUMN besar, Andi Punoko tetap punya waktu untuk keluarga. Hidup berdasarkan prinsip keseimbangan. Memperlakukan karyawan sebagai aset.

Memimpin perusahaan besar tentu bukanlah pekerjaan ringan, apalagi punya karyawan sebanyak ± 30.000 orang. Tantangan yang dihadapi bukan hanya membuat perusahaan agar tetap hidup, tetapi bagaimana dapat mencetak laba supaya para karyawan beserta keluarganya tetap hidup dan sejahtera. Namun, bagi Andi Punoko, yang menjabat sebagai Direktur Utama PT Perkebunan Negara (PTPN) VII ini dikatakan, seberat apa pun tanggung jawab yang diembannya, ia tetap rileks dan fress. Andi mengaku selalu memegang prinsip hidup yang seimbang. Ia berupaya membagi waktu secara seimbang untuk kantor dan keluarga, disamping bersosialisasi dengan masyarakat. Work and Leisure, itu pedoman saya dalam hidup dan bekerja, dengan cara menyeimbangkan antara kerja, refreshing, juga untuk keluarga,” kata Andi. Sesibuk apa pun pekerjaan di kantornya, ayah dari seorang putra dan empat puteri itu selalu membagi waktunya untuk keluarga, bahwa jabatan sebagai dirut di perusahaannya tidak akan menghalangi menjadi ayah dan suami yang baik di rumah.

Bersama istri tercinta Yenni Retnawati, Andi selalu punya waktu untuk bercengkerama bersama putra-putri tersayang. Pria yang murah senyum itu selalu bersikap lembut dan kebapaan di depan putra putrinya. “Namun, bagaimana pun juga jangan kita terlalu easy going sehingga cenderung meremehkan tanggung jawab di perusahaan,” kata pria kelahiran Metro, Lampung, alumnus Fakultas Ekonomi Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, itu. Andi adalah penikmat karya seni. Menurut dia, kelembutan bisa diasah dengan menikmati keindahan karya seni, seperti lukisan yang ia kagumi misalnya lukisan bertema laut. Sebab keagungan lautan yang maha luas membuatnya berkontemplasi bahwa di balik lautan yang luas dan tenang tersimpan keteduhan sekaligus kekuatan yang maha dahsyat.

Bos dikantor, Ayah di rumah

Andi sebagai bos di perusahaan bekerja keras yang tidak pernah menyerah selalu berupaya membawa perusahannya untuk meraih untung besar. Di rumah juga sebagai ayah yang baik tak lupa memberi perhatian untuk anak-anaknya. Tugas utamanya di kantor adalah untuk menciptakan kondisi, mengarahkan di mana setiap individu di dalam perusahaan dapat mengatur dirinya sendiri, agar saling bersinergi yang dapat menghasilkan sesuai dengan visi dan misi perusahaan. Menurut Andi, prospek bisnis perusahannya sebagai pemain di sektor agribisnis masih sangat prospektif dan menjanjikan, karena produk-produk utamanya antara lain Crude Palm Oil (CPO) sebagai bahan baku minyak goreng, mentega dan lainnya, juga gula, karet dan teh.

Seiring dengan meningkatnya permintaan akan bahan bakar minyak (bbm) dunia dan persoalan berkurangnya cadangan bahan bakar fosil maka dibuatlah bahan bakar alternatif, yang bahan bakunya dari tebu dan CPO dijadikan menjadi biofuel, maka tentulah prospek bisnis CPO, tetes tebu ke depan sangat cerah yang ramah lingkungan,” kata Andi. Di perusahannya, Andi dikenal sebagai pemimpin perusahaan yang mampu memotivsi karyawan dengan konsep yang ia rumuskan dengan kata ProMOSI. ProMOSI adalah sebuah kata yang bisa dimaknai To Promote, yang berarti meningkatkan. Tapi ProMOSI yang ia maksud adalah singkatan dari Produktivitas, Mutu, Organisasi, Servis dan Inovasi. “Dengan ProMOSI, menjadikan seluruh karyawan bertekad mempersembahkan sebuah kepuasan kepada stakeholder, dengan makin meningkatkan produktivitas yang mengutamakan mutu,” papar Andi.

Andi menegaskan untuk bisa produktif yang menghasilkan produk bermutu, harus well organized, baik secara individu maupun secara bersama-sama. “Secara individu, orang yang tidak well organized dan tidak akan pernah fokus yang selalu kehilangan orientasi,” ujar Andi. “Secara corporate, kalau perusahaan tidak well oraganized, pasti amburadul deh,” Andi menambahkan. Selain produktif, mengutamakan mutu dan well organized, seseorang juga harus menyadari bahwa kerja adalah service (pelayanan). “Semua agama juga mengajarkan bahwa hidup adalah untuk melayani,” ujar Andi. Selain itu, katanya bekerja harus inovatif, karena di luar sana persaingan semakin ketat dan sering kali cenderung tidak sehat. “Orang yang tidak mau berubah secara inovatif, dia tidak akan exist,” tegas Andi.

Karyawan adalah Aset

Meski telah sukses memimpin perusahaan besar, Andi tetap sebagai sosok yang tak pernah berhenti belajar dan menggali ilmu. Banyak membaca buku-buku tentulah akan meningkatkan pengetahuan yang sejak kecil kegemarannya adalah membaca, meski ia kini sudah jadi bos besar. Hampir semua buku-buku best seller tentang leadership sudah dilahapnya, seperti Leadership Team Bulding, How to Win with Others, dan Dare to Lead. Selain sibuk dengan tugas-tugasnya sebagai bos besar, Andi juga kerap menjadi motivator dalam loka karya atau training sumber daya manusia. “Dengan kegiatan ilmiah itu, kita bisa memotivasi diri kita sendiri untuk meningkatkan wawasan dan kemampuan dalam bekerja,” kata Andi.

Sebagai pemimpin perusahan, Andi memperlakukan karyawan sebagai aset utama, juga sebagai human capital. “Kalau kita salah memperlakukan pekerja, efeknya adalah banyak terjadi pemogokan dan demo,” katanya. Andi menegaskan bahwa di perusahaan yang dipimpinnya, segala permasalahan dilihat dari sudut pandang perusahaan (manajemen) dan dari sisi kepentingan pekerja. Sebab, kalau hanya dilihat dari kepentingan salah satu pihak saja, tak akan ditemukan solusinya. Andi sangat menghargai para pekerja, karena itu manajemen di perusahaannya sangat memperhatikan kepentingan para karyawannya. Menurut Andi, tipe dan karakter para pekerja sangat beragam. Mereka semua tentu membutuhkan leadership, karena mereka juga ingin dipimpin dan mau diatur. “Tugas utama saya sebagai pemimpin diperusahaan adalah menciptakan kondisi, di mana setiap individu di dalam perusahaan dapat mengatur dirinya sendiri untuk bersinergi agar apa yang dihasilkan convergen dengan VISI dan MISI perusahaan,” jelas Andi. Tugas pemimpin, kata Andi, cukup memberi kepemimpinan, tanpa perlu banyak mengatur.

“Kalau saya harus mengatur para pekerja satu persatu apa yang harus mereka kerjakan, apa yang harus dipikirkan dan bagaimana detil yang harus mereka jalani dalam bekerja, wah… capek deh..!” ujar Andi. Menurut dia, para pekerja cukup dipimpin. Dan, supaya mereka mau dipimpin, maka sang pemimpin pun harus jadi role model. Karena pada hakekatnya, seorang pemimpin itu adalah contoh bagi bawahannya. “Apa yang kita kerjakan, mereka akan melihat dan mengikutinya,” kata Andi.

Jaga Penampilan

Sebagai pemimpin, Andi sangat peduli pada penampilannya sehari-hari. Andi mengutip Sharon Voros dalam bukunya The Road To CEO. Sharon Voros mengungkapan ada 8 faktor yang mempengaruhi leadership presence (kualitas kepemimpinan), satu di antaranya adalah penampilan. “Saya sangat setuju karena bagaimana pun, sosok itu sangat penting. Orang masih lebih bertanya who’s the singer daripada what’s the song,” kata Andi. Menurut Andi, penampilan meliputi dua hal, yaitu bagaimana bertindak dan bagaimana tampil sesuai dengan peran. Bagaimana bertindak sesuai dengan peran meliputi bagaimana bersikap, berkata-kata, berjalan dan sebagainya. “Tampil sesuai dengan peran ini misalnya adalah bagaimana memilih busana, aksesoris, parfum, dan lain-lain,” kata Andi.

Menurut Andi, proses bisnis bidang life style sama dengan agrobisnis, keduanya sangat cerah. Kini pria-pria metrosexual makin bertambah, dan spending mereka sangat luar biasa karena mereka rela merogoh kocek lebih banyak demi penampilan yang oke dan life style trendy. Penampilan yang bagus bukanlah karena harga yang sangat mahal, tetapi cocok dan pas dengan prostur tubuh yang ditampilkan walaupun harga murah, katanya. Andi mengaku menyukai warna ungu, meski orang bilang bahwa warna itu adalah janda. “Orang pada tau lho..! Tapi saya sangat senang dengan warna ini, karena bagi saya warna ungu mengandung kelembutan dan sekaligus dignity,” ujar Andi. Andi juga mengaku menjadi kolektor farfum, mulai dari yang beraroma maskulin seperti Aigner, Mont Blanc, Swis Army, sampai ke aroma unisex seperti Angle, Versace, Channel dan lain-lain. Sedangkan busana yang dipakainya sehari-hari, kata dia, menyesuaikan saja, sesuai dengan peran dan situasi. Untuk tas merek pilihan adalah Mont Blanc, Gucci dan LV.

Andi juga sangat memperhatikan penampilan para karyawannya, termasuk pakaian seragam mereka. “Selama ini uniform (pakaian seragam) karyawan masih belum pas, tetapi ke depan uniform akan lebih disesuaikan,” katanya. Sebagai contoh, di kebun-kebun cukup memakai kaos saja agar lebih leluasa bergerak. Sedangkan di kantor mungkin lebih berkesan resmi. “Seragam adalah cerminan dari Visi dan Misi perusahaan,” katanya. Pendapat anak-anak Andi Punoko tentang penampilan ayahnya? Putra-putri Andi yakni Fira, Ina, Almas, Firta dan Ika sependapat bahwa ayahnya memang sangat menjaga penampilan. Mereka bangga dan selalu mengingatkan agar ayahnya memang senantiasa selalu menjaga penampilan. “Kami prihatin banyak para public figure, terutama anak-anak muda yang tampil di depan umum dengan busana kurang sopan, sehingga kurang sesuai dengan adat Timur,” kata mereka. []


The Spirit of Change by ProMOSI

Meski sibuk sebagai direktur utama di salah satu BUMN besar, Andi Punoko tetap punya waktu untuk keluarga. Hidup berdasarkan prinsip keseimbangan. Memperlakukan karyawan sebagai aset.

Memimpin perusahaan besar tentu bukanlah pekerjaan ringan, apalagi punya karyawan sebanyak ± 30.000 orang. Tantangan yang dihadapi bukan hanya membuat perusahaan agar tetap hidup, tetapi bagaimana dapat mencetak laba supaya para karyawan beserta keluarganya tetap hidup dan sejahtera. Namun, bagi Andi Punoko, yang menjabat sebagai Direktur Utama PT Perkebunan Negara (PTPN) VII ini dikatakan, seberat apa pun tanggung jawab yang diembannya, ia tetap rileks dan fress. Andi mengaku selalu memegang prinsip hidup yang seimbang. Ia berupaya membagi waktu secara seimbang untuk kantor dan keluarga, disamping bersosialisasi dengan masyarakat. “Work and Leisure, itu pedoman saya dalam hidup dan bekerja, dengan cara menyeimbangkan antara kerja, refreshing, juga untuk keluarga,” kata Andi. Sesibuk apa pun pekerjaan di kantornya, ayah dari seorang putra dan empat puteri itu selalu membagi waktunya untuk keluarga, bahwa jabatan sebagai dirut di perusahaannya tidak akan menghalangi menjadi ayah dan suami yang baik di rumah.

Bersama istri tercinta Yenni Retnawati, Andi selalu punya waktu untuk bercengkerama bersama putra-putri tersayang. Pria yang murah senyum itu selalu bersikap lembut dan kebapaan di depan putra putrinya. “Namun, bagaimana pun juga jangan kita terlalu easy going sehingga cenderung meremehkan tanggung jawab di perusahaan,” kata pria kelahiran Metro, Lampung, alumnus Fakultas Ekonomi Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, itu. Andi adalah penikmat karya seni. Menurut dia, kelembutan bisa diasah dengan menikmati keindahan karya seni, seperti lukisan yang ia kagumi misalnya lukisan bertema laut. Sebab keagungan lautan yang maha luas membuatnya berkontemplasi bahwa di balik lautan yang luas dan tenang tersimpan keteduhan sekaligus kekuatan yang maha dahsyat.

Bos dikantor, Ayah di rumah
Andi sebagai bos di perusahaan bekerja keras yang tidak pernah menyerah selalu berupaya membawa perusahannya untuk meraih untung besar. Di rumah juga sebagai ayah yang baik tak lupa memberi perhatian untuk anak-anaknya. Tugas utamanya di kantor adalah untuk menciptakan kondisi, mengarahkan di mana setiap individu di dalam perusahaan dapat mengatur dirinya sendiri, agar saling bersinergi yang dapat menghasilkan sesuai dengan visi dan misi perusahaan. Menurut Andi, prospek bisnis perusahannya sebagai pemain di sektor agribisnis masih sangat prospektif dan menjanjikan, karena produk-produk utamanya antara lain Crude Palm Oil (CPO) sebagai bahan baku minyak goreng, mentega dan lainnya, juga gula, karet dan teh.

Seiring dengan meningkatnya permintaan akan bahan bakar minyak (bbm) dunia dan persoalan berkurangnya cadangan bahan bakar fosil maka dibuatlah bahan bakar alternatif, yang bahan bakunya dari tebu dan CPO dijadikan menjadi biofuel, maka tentulah prospek bisnis CPO, tetes tebu ke depan sangat cerah yang ramah lingkungan,” kata Andi. Di perusahannya, Andi dikenal sebagai pemimpin perusahaan yang mampu memotivsi karyawan dengan konsep yang ia rumuskan dengan kata ProMOSI. ProMOSI adalah sebuah kata yang bisa dimaknai To Promote, yang berarti meningkatkan. Tapi ProMOSI yang ia maksud adalah singkatan dari Produktivitas, Mutu, Organisasi, Servis dan Inovasi. “Dengan ProMOSI, menjadikan seluruh karyawan bertekad mempersembahkan sebuah kepuasan kepada stakeholder, dengan makin meningkatkan produktivitas yang mengutamakan mutu,” papar Andi.

Andi menegaskan untuk bisa produktif yang menghasilkan produk bermutu, harus well organized, baik secara individu maupun secara bersama-sama. “Secara individu, orang yang tidak well organized dan tidak akan pernah fokus yang selalu kehilangan orientasi,” ujar Andi. “Secara corporate, kalau perusahaan tidak well oraganized, pasti amburadul deh,” Andi menambahkan. Selain produktif, mengutamakan mutu dan well organized, seseorang juga harus menyadari bahwa kerja adalah service (pelayanan). “Semua agama juga mengajarkan bahwa hidup adalah untuk melayani,” ujar Andi. Selain itu, katanya bekerja harus inovatif, karena di luar sana persaingan semakin ketat dan sering kali cenderung tidak sehat. “Orang yang tidak mau berubah secara inovatif, dia tidak akan exist,” tegas Andi.

Karyawan adalah Aset
Meski telah sukses memimpin perusahaan besar, Andi tetap sebagai sosok yang tak pernah berhenti belajar dan menggali ilmu. Banyak membaca buku-buku tentulah akan meningkatkan pengetahuan yang sejak kecil kegemarannya adalah membaca, meski ia kini sudah jadi bos besar. Hampir semua buku-buku best seller tentang leadership sudah dilahapnya, seperti Leadership Team Bulding, How to Win with Others, dan Dare to Lead. Selain sibuk dengan tugas-tugasnya sebagai bos besar, Andi juga kerap menjadi motivator dalam loka karya atau training sumber daya manusia. “Dengan kegiatan ilmiah itu, kita bisa memotivasi diri kita sendiri untuk meningkatkan wawasan dan kemampuan dalam bekerja,” kata Andi.

Sebagai pemimpin perusahan, Andi memperlakukan karyawan sebagai aset utama, juga sebagai human capital. “Kalau kita salah memperlakukan pekerja, efeknya adalah banyak terjadi pemogokan dan demo,” katanya. Andi menegaskan bahwa di perusahaan yang dipimpinnya, segala permasalahan dilihat dari sudut pandang perusahaan (manajemen) dan dari sisi kepentingan pekerja. Sebab, kalau hanya dilihat dari kepentingan salah satu pihak saja, tak akan ditemukan solusinya. Andi sangat menghargai para pekerja, karena itu manajemen di perusahaannya sangat memperhatikan kepentingan para karyawannya. Menurut Andi, tipe dan karakter para pekerja sangat beragam. Mereka semua tentu membutuhkan leadership, karena mereka juga ingin dipimpin dan mau diatur. “Tugas utama saya sebagai pemimpin diperusahaan adalah menciptakan kondisi, di mana setiap individu di dalam perusahaan dapat mengatur dirinya sendiri untuk bersinergi agar apa yang dihasilkan convergen dengan VISI dan MISI perusahaan,” jelas Andi. Tugas pemimpin, kata Andi, cukup memberi kepemimpinan, tanpa perlu banyak mengatur.

“Kalau saya harus mengatur para pekerja satu persatu apa yang harus mereka kerjakan, apa yang harus dipikirkan dan bagaimana detil yang harus mereka jalani dalam bekerja, wah… capek deh..!” ujar Andi. Menurut dia, para pekerja cukup dipimpin. Dan, supaya mereka mau dipimpin, maka sang pemimpin pun harus jadi role model. Karena pada hakekatnya, seorang pemimpin itu adalah contoh bagi bawahannya. “Apa yang kita kerjakan, mereka akan melihat dan mengikutinya,” kata Andi.

Jaga Penampilan
Sebagai pemimpin, Andi sangat peduli pada penampilannya sehari-hari. Andi mengutip Sharon Voros dalam bukunya The Road To CEO. Sharon Voros mengungkapan ada 8 faktor yang mempengaruhi leadership presence (kualitas kepemimpinan), satu di antaranya adalah penampilan. “Saya sangat setuju karena bagaimana pun, sosok itu sangat penting. Orang masih lebih bertanya who’s the singer daripada what’s the song,” kata Andi. Menurut Andi, penampilan meliputi dua hal, yaitu bagaimana bertindak dan bagaimana tampil sesuai dengan peran. Bagaimana bertindak sesuai dengan peran meliputi bagaimana bersikap, berkata-kata, berjalan dan sebagainya. “Tampil sesuai dengan peran ini misalnya adalah bagaimana memilih busana, aksesoris, parfum, dan lain-lain,” kata Andi.

Menurut Andi, proses bisnis bidang life style sama dengan agrobisnis, keduanya sangat cerah. Kini pria-pria metrosexual makin bertambah, dan spending mereka sangat luar biasa karena mereka rela merogoh kocek lebih banyak demi penampilan yang oke dan life style trendy. Penampilan yang bagus bukanlah karena harga yang sangat mahal, tetapi cocok dan pas dengan prostur tubuh yang ditampilkan walaupun harga murah, katanya. Andi mengaku menyukai warna ungu, meski orang bilang bahwa warna itu adalah janda. “Orang pada tau lho..! Tapi saya sangat senang dengan warna ini, karena bagi saya warna ungu mengandung kelembutan dan sekaligus dignity,” ujar Andi. Andi juga mengaku menjadi kolektor farfum, mulai dari yang beraroma maskulin seperti Aigner, Mont Blanc, Swis Army, sampai ke aroma unisex seperti Angle, Versace, Channel dan lain-lain. Sedangkan busana yang dipakainya sehari-hari, kata dia, menyesuaikan saja, sesuai dengan peran dan situasi. Untuk tas merek pilihan adalah Mont Blanc, Gucci dan LV.

Andi juga sangat memperhatikan penampilan para karyawannya, termasuk pakaian seragam mereka. “Selama ini uniform (pakaian seragam) karyawan masih belum pas, tetapi ke depan uniform akan lebih disesuaikan,” katanya. Sebagai contoh, di kebun-kebun cukup memakai kaos saja agar lebih leluasa bergerak. Sedangkan di kantor mungkin lebih berkesan resmi. “Seragam adalah cerminan dari Visi dan Misi perusahaan,” katanya. Pendapat anak-anak Andi Punoko tentang penampilan ayahnya? Putra-putri Andi yakni Fira, Ina, Almas, Firta dan Ika sependapat bahwa ayahnya memang sangat menjaga penampilan. Mereka bangga dan selalu mengingatkan agar ayahnya memang senantiasa selalu menjaga penampilan. “Kami prihatin banyak para public figure, terutama anak-anak muda yang tampil di depan umum dengan busana kurang sopan, sehingga kurang sesuai dengan adat Timur,” kata mereka.