Spiga

Tampilkan postingan dengan label profile. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label profile. Tampilkan semua postingan

The Power Of Creativity

Text by : Faisal Hamid

Pria kelahiran Tanah Bugis Sengkang, Wajo, Sulawesi Selatan, 27 Desember, 42 tahun silam ini memulai karirnya di dunia jurnalistik sejak tahun 80-an dengan menjadi penulis lepas ( freelance ) di sejumlah media cetak. Ia bergabung secara resmi di sebuah harian umum, kemudian berpindah ke sebuah tabloid mingguan dengan jabatan terakhirnya yaitu redaktur pelaksana. Kemudian pada tahun 1981 ia datang ke Jakarta dengan mengawali aktivitasnya sebagai pekerja seni dan teater, serta membintangi sejumlah sinetron dan film. Seniman yang benama lengkap H. Egy Massadiah ini hampir setiap tahunnya menjadi produser film dan juga berprofesi anggota Teater Mandiri pimpinan Putu Wijaya yang kerap pentas di mancanegara. Di samping itu pun, ia pernah menjadi wartawan selama 10 tahun di sejumlah media cetak, dengan jabatan terakhir redaktur senior di Tabloid Wanita Indonesia.

Pria yang akrab di panggil Egy ini, menghabiskan masa kecilnya di kota Sengkang yang berjarak ± 4 jam dari kota Makasar. Egy sangat aktif dalam kegiatan-kegiatan di sekolahnya, seperti, Pramuka, olahraga, dan karate. Ketika orang tuanya dipindah tugaskan ke Makasar, Egy pun ikut dipindahkan sekolahnya ke SMP 6 Makasar yang kebetulan cukup terkenal di kota Makasar. Kemudian di SMP 6 Makasar inilah Egy mulai berulah, dengan kenakalannya itu justru membuatnya mendapat peringkat 1 di kelasnya dan bahkan ia sempat mewakili cerdas cermat di televisi untuk tingkat kabupaten. Dan akibat kenakalannya pula, salah seorang caleg ini diberhentikan dari sekolahnya karena sering bolos sekolah. Ketika seniman ini menamatkan sekolahnya ia langsung merantau ke Jakarta untuk melanjutkan sekolah di Muhammadiyah Kramat dan juga akibat kenakalannya, ia-pun dipindahkan lagi ke Muhammadiyah Pejompongan, dan itupun tidak diselesaikan di Jakarta. Kemudian ia melanjutkan kembali sekolahnya di SMA HDI Makasar hingga tamat.

Ketika ditanya wartawan 69++ di kantornya di Jl. Gaharu Terusan I/5A, Cilandak Barat, pada waktu masih sekolah dan kuliah dulu Egy sering berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lain. Pendidikan formalnya tidak begitu bagus, tetapi strategi berdebatnya boleh diadu dengan orang yang sudah sarjana sekalipun. “Sekolah itu adalah bagaimana melaksanakan kewajiban supaya membuat orang tua senang. Kehidupan ini bisa teratur kalau kita pintar membacanya, ini adalah melebihi sejumlah SKS yang juga kita temukan di dalam perkuliahan. Pendidikan itu perlu, agar bagaimana cara berfikir kita terstruktur, karena sekolah mengajarkan kita bagaimana membaca yang benar dan berdisiplin. Sementara ilmu-ilmu yang didapat oleh seniman ini lebih banyak didapat dari jalanan”, ungkapnya.

Dalam bidang tulis menulis, Egy sempat memenangkan lomba penulisan essay Diplomasi Kebudayaan Indonesia-Amerika dalam rangka KIAS pada tahun 1987 serta menulis sejumlah buku, antara lain Srikandi, Sejumlah Wanita Indonesia, Top Eksekutif Indonesia, dan Top Pengusaha Indonesia.

Di sela kesibukan jurnalistiknya, ia juga menulis cerpen, puisi, dan essay. Mengingat Egy bergabung ke Teater Mandiri pimpinan Putu Wijaya. Dari sinilah awal perkenalannya dengan dunia akting yang hingga akhirnya membuatnya membintangi beberapa film layar lebar seperti Pernikahan Dini, Kabut Perkawinan dan Zig Zag, serta sinetron diantaranya Rumah Masa Depan (TVRI), Abad 21, Kerinduan, Intrik, dan lain sebagainya. Egy yang juga berprofesi sebagai seniman ini lebih banyak bergaul di kehidupan nyata seperti menulis dan teater. Di usia 17 tahun, seniman ini sudah mulai mengirim tulisannya ke media cetak serta ikut dalam lomba penulisan. “Waktu itu saya mulai menulis walaupun korannya ecek-ecek, hanya memperoleh honor Rp. 3.000-Rp. 5.000, tetapi kalau menulis di Koran Kompas contohnya bisa sampai memperoleh honor Rp. 75.000. Dan pada waktu itu, saya juga hobi nongkrong di TIM menunggu panggilan untuk menjadi figuran yang honornya Rp. 5.000”, ceritanya sambil tertawa.

Egy Massadiah, salah satu sosok orang Bugis yang menjadi anggota Teater Mandiri sejak 1983 dan hingga kini masih tetap anggota Teater Mandiri meskipun sudah berprofesi sebagai eksekutif muda yang berhasil serta menjadi calon anggota legislatif DPR RI Partai Golkar No. urut 5, Daerah pemilihan DKI Jakarta II (Jakarta Selatan, Jakarta Pusat dan Luar Negeri).

Sebagai anggota Teater Mandiri, Egy kerap tampil dalam beberapa pergelaran Internasional, diantaranya yaitu New York, Seattle, Connecticut, California, Amerika Serikat, Singapura, Hongkong, Jepang, Taiwan, dan Kairo. Egy berjanji, jika ia duduk di DPR nanti ia akan lebih banyak memperjuangkan kepentingan para seniman. Ia ingin pemerintah membangun lebih banyak gedung kesenian, tempat-tempat pementasan dan ruang berekspresi bagi seniman. "Saya ingin para seniman lebih dihargai, baik secara materiil maupun moril dan melalui DPR saya ingin lebih bisa berperan dalam meningkatkan kualitas seni Indonesia dan meningkatkan harkat serta martabat para seniman. Saya memilih Partai Golkar sebagai kendaraan politik saya, karena Partai Golkarlah yang memiliki perhatian dan kepedulian terhadap kesenian dan nasib para seniman," ungkapnya.

Ambisi Egy untuk menjadikan teater sebagai wadah yang mengolah generasi muda Indonesia untuk siap pakai dalam membangun Negara Kesatuaan Republik Indonesia (NKRI) yang baru dan menjadi hal yang menarik. Kehidupan dan negara sendiri adalah sebuah panggung teater yang membutuhkan pekerja-pekerja yang ulet, setia dan terlatih. Tak hanya cerdas, tetapi juga bijak, gesit dan memiliki kepekaan yang tinggi pada kemanusiaan.

“Teater yang mencakup hampir seluruh cabang kesenian dan mencakup berbagai aspek dari disiplin ilmu lain ini (psikologi, filsafat, sejarah, politik, hukum, dan bahkan ekonomi) akan menjadi bengkel pelatihan bukan saja bagi mereka yang ingin menjadi pekerja teater, tetapi bagi seluruh kemungkinan profesi dari kelas pekerja maupun pemimpin”, jelas pengusaha di bidang IT dan production house yang menggarap PSA, documentary film dan film layar lebar ini.

“Bila saja saya diberi kesempatan dan berhasil konsisten dengan mimpinya yang indah dan menyala-nyala ini, kita mungkin dapat sedikit menolong menyelamatkan generasi muda dari jilatan neraka kehidupan yang terjulur dari liang NARKOBA. Dan itu tentunya akan terjadi jika kita memberi kesempatan sekaligus menjaga langkah-langkah mereka agar tidak terjerumus ke arah yang keliru, mengingat dunia politik memiliki seribu peta buta”, tandasnya.

Setelah merelease film “Lari Dari Blora,” yang menceritakan tentang kehidupan masyarakat Samin, yang dibintangi W. S Rendra pada Februari 2008 lalu, Wakil Bendahara Lembaga Pengelola Kader (LPK) DPP Partai Golkar ini kini tengah mempersiapkan diri untuk menjadi calon anggota DPR/RI.

Lepas dari dunia jurnalistik, pada awal tahun 2000-an ia banting setir ke dunia bisnis dengan mendirikan perusahaan yang bergerak di bidang teknologi informasi dan bidang periklanan. Selain itu, salah seorang pengusaha informasi teknologi (IT) ini pun juga ingin lebih memperhatikan dunia kesenian.

Calon anggota DPR/RI ini mengatakan ketidaksukaannya dengan pemuda yang berbicara di depannya bercerita tentang kepedihan/kepahitan hidup. Tak heran maka ia akan lantas jengkel melihat anak muda yang sering mengeluh tanpa mau berusaha, apalagi jika mengeluh masalah lapar/belum makan. Pria yang kini tinggal di Saraswati, Cipete, Jakarta Selatan ini menceritakan ketika ia tinggal di Cempaka Putih beberapa waktu lalu, jika belum makan, seniman ini akan berusaha bagaimana caranya agar bisa makan. Seperti contohnya, pada malam hari ia tidak segan-segan menunggu tukang bakso yang lewat pada pkl 00.00 dan mengingat pada waktu itu di pinggir kali tempat ia tinggal ada orang yang menanam sayuran, maka tak segan-segan pula saya minta baik-baik kepada yang menanamnya agar diberi 3-4 lembar sayuran, kemudian tanpa pikir panjang sayuran tersebut langsung saya siram dengan kuah bakso. Disinilah seniman bisa makan. Inilah pengalaman hidup yang sampai sekarang tidak ia lupakan.

Ada satu perjalanan lagi yang tak terlupakan dari caleg ini sepanjang perjalanan hidupnya, yaitu pada sekitar tahun 1983-an, Egy berpikir bagaimana cara mencari uang untuk mencari sesuap nasi. Ketika ia berjalan di Jl. Wahid Hasyim, Tanah Abang dan disitu juga ia melihat salon yang barang siapa orang tersebut mambawa orang yang mau memotong rambutnya di salon itu akan dibayar sebesar Rp. 500/orang dikarenakan Rudi Hadi Suharno pemilik salon tersebut sedang dalam proses pembelajaran. Disinilah Egy pada waktu itu bisa makan di warung tegal (warteg) yang waktu itu harga nasi dan lauk seporsinya Rp. 75.

Prinsip caleg ini adalah jika ada pekerjaan apapun jenisnya akan dikerjakan dengan sungguh-sungguh dan selalu positive thinking. “Contohnya tukang sapu jika kerjanya sungguh-sungguh, maka ia akan menjadi tukang sapu yang baik,” cetusnya.

“Sejauh ini, kendala yang saya hadapi adalah komentar-komentar orang, yang kerap mereka kirim melalui facebook, bertuliskan “dasar caleg perampok”. Saya hanya bisa mengucapkan terima kasih atas komentarnya dan salam persaudaraan bagi kita semua. Kita harus menghargai perbedaan pendapat karena bisa jadi ia berkata seperti itu karena ia memang tidak mengetahui sesuatunya, karena kurang pahamnya ia akan sesuatu itu, tetapi sok paham. Saya mencoba menerima ini, karena memang saya ingin bergaul dengan semua orang dari orang-orang partai lain sekalipun, tidak berteman dengan orang Golkar saja”, paparnya.

Calon anggota legislatif DPR RI Partai Golkar No. urut 5, Daerah pemilihan DKI Jakarta II (Jakarta Selatan, Jakarta Pusat dan Luar Negeri) ini ketika ditanya mengenai latar belakang politiknya, ia mengatakan tidak mempunyai latar belakang politik, pada dasarnya ia adalah seorang seniman, seorang penulis, akan tetapi saya meyakini bahwa instrumen politik ini memerlukan sejumlah pemikiran yang berbeda latar belakang. Terkadang ada sesuatu yang memang sudah semestinya dibuat praktis saja. Karena ada keterpanggilan itu juga, sama seperti agama mengatakan bahwa “sebaik-baiknya manusia adalah saat dia bisa bermanfaat lebih banyak untuk orang lain”. Saya bertekad untuk menjalankan misi politik dengan hati yang bersih dan tulus.

Ini adalah bentuk keperihatinan kita sebagai masyarakat yang peduli dengan kesenian yang ada di negeri ini, mengingat teater sebenarnya adalah ilmu kesenian yang paling tinggi, akan tetapi di sisi lain teater ini juga merupakan kesenian yang paling miskin. Dahulu, Egy semapt latihan selama 4 bulan bersama Dewi Yul, Dono (alm), dan Warkop. Selama 3 bulan kami latihan tiap malam sampai pukul 2 malam dan hanya malam minggu saja liburnya, honor yang kami peroleh hanya sebesar Rp.50.000, that’s not a big deal! Karena kita memang mengabdi.

Untuk Teater Mandiri ini, berbeda dengan Teater Koma. Pertunjukkan Teater Koma penontonnya selalu penuh, tetapi ketika Teater Mandiri mengadakan pertunjukkan, yang menonton hanya 10 orang, lain dengan di Amerika, Hongkong, Jepang dan Kairo, dimana terdapat banyak penonton ketika kami tampil. Untuk sementara ini, teater memang belum bisa menghasilkan uang yang menjanjikan bagi para pekerjanya, pekerjanya harus berusaha melakukan cara lain, seperti ikut shoting, menjadi kru film, baru bisa menghasilkan uang lebih.

Teater ini sebenarnya adalah ruang untuk mengajarkan orang bagaimana berhubungan dengan orang lain dan menghormati orang lain. “Saya sangat peduli dengan persoalan ini dan negara juga harus peduli dengan persoalan ini, karena dunia teater ini kecil, tetapi memiliki isu yang besar, bayangkan saja jika ada kehidupan teater di RT maupun RW yang maju, dimana saya yakin sedikit demi sedikit kita bisa menolong generasi muda dari persoalan Narkoba. “Kira-kira seperti ini dan mungkin negara harus tetap memberi teladan yang baik, sebagai contoh di sebuah RT, beberapa anak gadisnya belajar menari, honor guru tarinya misal sebesar Rp 500.000, dari negara bantulah Rp. 250.000 dan sisanya patungan”, kenangnya sambil tersenyum.

Susanti Agustina : Memperjuangkan Kemandirian

Salah seorang Calon Legislatif dari Partai Hanura, untuk daerah pemilihan Kalimantan Timur yang juga menjabat sebagai wakil bendahara Umum Partai Hanura ini sejak kecil dididik disiplin, kerja keras, tanggung jawab dan mandiri. Wanita yang merupakan anak ke 8 dari 10 bersaudara ini termasuk orang tak cepat puas dengan hasil yang ia dapatkan, ia berpola pikir harus terus mengembangkan diri untuk mencapai kemajuan dalam dirinya. Mengawali karirnya di PT. Eka Tradisi, Samarinda setelah tamat SMA, tidak menyurutkan semangatnya untuk terus belajar dan belajar dengan melanjutkan studinya di Universitas Muhammadiyah, Malang. Seiring dengan hal itu, kemandiriannya pun seakan kembali diuji guna membiayai hidup dan membayar uang kuliahnya, yakni dengan karir keduanya di PT. Bank Harapan Santosa (BHS). Dengan tekad dan kerja keras untuk meraih apa yang di cita-citakan, kesuksesannya pun kini telah ia raih. Itulah tekad dan motivasi diri seorang Susanti Agustina, SH.

Kini, berbekal tekad bulatnya ia terjun di dunia politik. “Saya melihat banyak partai politik yang tidak konsekuen berjuang untuk kepentingan rakyat, melainkan hanya untuk kepentingan individu dan kelompok”, terangnya prihatin. Ia juga melihat masih minimnya keterwakilan perempuan dalam parlemen di Indonesia, dalam tingkat pengambil keputusan perempuan harus mendapat akses dan fasilitas yang sama dengan pria. Di sisi lain, Susanti begitu ia akrab disapa, memandang dengan adanya kontribusi sebesar 30% kaum perempuan, yakni yang tertera dalam Pasal 28 UUD 1945 dan UU Pemilu mengenai keterlibatan kaum hawa dalam dewan legislatif, maka sebaiknya para caleg perempuan dibekali kemampuan pada suatu bidang tertentu yang menjadi profesinya. “Saya menghargai apabila memang sejak awal aktivitas perempuan dibekali dengan pengetahuan-pengetahuan, bukan politiknya yang lebih didahulukan, tetapi profesi dan pengalamannya yang lebih harus diutamakan,” tandasnya. Menurut wanita dengan segudang jabatan ini, menjelang Pemilu mendatang, cukup banyak juga parpol yang hanya mencantumkan caleg perempuannya dalam rangka memenuhi daftar caleg saja, dimana tidak memperhatikan kualitas dan pengalaman sehingga keterwakilan perempuan di parpol dipandang sebagai formalitas saja untuk memenuhi kuota yang disyaratkan UU.

Memang tak disangka, wanita yang semula tidak tertarik untuk berkecimpung di dunia politik ini, akhirnya menepis pemikirannya yang memandang partai politik hanya mementingkan kepentingannya sendiri setelah ia mempelajari buku saku Partai Hanura yang diberikan oleh Herwan Susanto yang juga Ketua DPD Kalimantan Timur dan Direktur Operasional PT. Kutai Samudra, dimana Susanti juga menjadi Direktur Keuangan di perusahaan tersebut. Ketika ia membaca buku saku salah satu partai peserta Pemilu tersebut, ia langsung tertarik dengan visi dan misi dari Partai Hanura, yang mana menurutnya merupakan partai pertama yang menyatakan kemandirian bangsa, mengingat selama ini ia merasa banyak sekali intervensi dan tekanan asing yang merugikan bangsa Indonesia.

Wanita kelahiran Samarinda, 41 tahun silam ini pun yakin dengan keterlibatannya dengan Partai Hanura kini, perjuaangannya untuk dapat mewujudkan kemandirian dan kesejahteraan rakyat akan terwujud. “Di samping itu, ia juga melihat Partai Hanura memang bertekad untuk melahirkan pemimpin yang bertakwa, jujur, berani, tegas dan berkemampuan dalam menjalankan tugasnya,” tegasnya.


Dalam meniti karirnya, wanita yang juga bekerja di Law Office Indra Sahnun Lubis & Associates sebagai Corporate Lawyer ini juga kerap banyak menemui hambatan dan kegagalan. Akan tetapi semuanya itu disikapi oleh Direktur Utama PT. Arena Satria Meliatama dengan kepala dingin dan penuh instrospeksi. Pengalamannya semasa kuliah yang dilakoninya sambil bekerja telah menjadikannya sosok wanita yang pantang menyerah dalam menghadapi segala hambatan dalam hidupnya.

Wanita yang juga berkecimpung di bagian HUMAS Kongres Advokat Indonesia (KAI) ini memandang Indonesia saat ini berada dalam kondisi paradoks, mengingat negeri kita ini kaya, akan tetapi kok rakyatnya miskin!. Indonesia yang kaya akan sumber daya alam, laut, dan hutan, lantas mengapa kemiskinan masih ada dimana-mana?. “Nah, untuk itu kita perlu instrospeksi apa yang salah, apakah dari pemimpinnya?, masyarakat atau sistemnya?. Dan berdasarkan hasil analisis wanita yang juga aktif di organisasi Kaukus Perempuan Politik (KPPI) ini, persoalan Indonesia terletak pada sistem yang kita anut. ”Mahzab ekonomi yang kita anut terlalu liberal, bahkan lebih liberal dari negara liberal sekalipun”, ujarnya. Menurut Susanti, kita harus kembali pada sistem ekonomi kerakyatan, dimana sesuai dengan pasal 33 UUD 1945 yang asli, karena dengan itulah kita dapat berpihak pada rakyat kecil, yang mana tercantum bumi, air dan kekayaan yang terkandung di dalamnya dipergunakan semaksimal mungkin untuk kemakmuran rakyat. ”Oleh karena itu, tidak ada kata terlambat untuk melakukan perbaikan sistem ekonomi di Indonesia”, katanya bangga.

Sementara itu, ia pun melihat sudah lebih dari 11 tahun reformasi berlangsung tetapi mengapa ekonomi kita masih tetap dihandle oleh kaki tangan IMF?. Menurutnya, hal tersebut merupakan kesalahan vital yang dihadapi bangsa ini. Maka dari itu, ia bertekad untuk mengadakan perubahan agar negeri ini bisa lebih sejahtera, karena rakyat patut dilindungi dan diperjuangkan hak-haknya. It’s time for move on to be a better life!. Dan semoga kesuksesan dapat kita raih kelak dengan kerja keras, tekad, dan semangat yang kuat tentunya atas ridho Allah SWT.

The Hand of God

Ia terkenal sebagai seorang politikus handal yang berkarakter keras, tetapi tidak kasar disebabkan background beliau sebagai seorang karateka (Ketua Umum Pengurus Besar Lembaga Karatedo Indonesia (Ketum PB Lemkari). Dimana sangat mendambakan ‘Do, yaitu memberikan pengertian kejujuran, keberanian dengan daya juang yang tinggi tanpa mengenal menyerah. ‘Do disini yaitu sama dengan ‘Do nya Judo, Aikido, dan Kendo. Ia tak segan menelurkan pandangannya tentang apa yang salah dan benar di dalam pikirannya dinyatakan secra terbuka. Tak segan pula mengungkapkan segala hal dengan tindakan (yang sifatnya operasional). Pria kelahiran Jakarta 62 tahun silam, Anton Lesiangi, SE. Masa kecilnya bukanlah seorang yang hidup dalam definisi ‘wah’. Ia hidup serba kekurangan, bahkan hanya berbekal dua potong baju sehari-harinya (waktu di SMA PSKD 1). Namun bukannya menyerah, tetapi semangat kecilnya ini melecut hingga duduk sebagai salah satu Ketua DPP Partai Golkar dan anggota DPR/MPR RI.

Ketika ditemui wartawan 69++ di Kantor DPP Golkar, yang akrab dipanggil bung Anton ini tampak masih bersemangat dan energik meskipun telah bekerja seharian. Lelaki yang lahir 62 tahun silam ini mengakui sebagai seorang politikus sudah pekerjaannya meneliti peta perpolitikan Indonesia baik kepada para tokoh maupun elit politikus, termasuk lembaganya partai-partai politik. Ini adalah santapan sehari-harinya memprediksi apa dan bagaimana Indonesia akan terus bergejolak dengan seluruh permasalahannya, dengan hanya satu tujuan melalui Partai Golkar sebagai alat perjuangan untuk merebut kekuasaan seperti untuk menduduki kursi Presiden, Wapres, DPR/MPR, Duta Besar, Mentri, bahkan sampai ketua RT dimana pada akhirnya setelah kekuasaan itu direbut itulah tugas satu-satunya fungsi DPP Partai Golkar, seharusnya ketua umum dan wakil ketua umum. Yaitu: Mensejahterahkan rakyat Indonesia.

Bagaimanakah tanggapan dokter lulusan Adam Smith University of America ini tentang Indonesia, yang kini tak lagi dapat disebut Gemah Ripah Loh Jinawi ? Ada apakah dibalik seluruh kemelut yang tampaknya semakin membelit ibu kota pertiwi ini?
“Hanya Tangan Tuhan yang dapat menyelamatkan Bangsa dan Negara ini” tuturnya tersenyum tipis namun tetap terdengar tegas dan lugas. Tuhan adalah yang menciptakan manusia, bumi, bahkan pelukis scenario seisi alam semesta. Pemimpin dari yang paling tinggi hingga yang paling bawah. Indonesia butuh mengenal, mengkaji Tuhan lebih dalam. Dibutuhkan reinterpretasi
agama yang tepat yang pada akhirnya akan memperbaiki moral suatu bangsa. Agar pemimpin bangsa ini memiliki tujuan yang pasti hanya untuk mensejahterakan rakyat, apapun tujuan itu selalu yang pertama bersandar kepada Tuhan (Allah yang maha esa) yang disembah oleh nabi besar Ibrahim, Isaak, Yakub, Ismail, dan Allah yang sama untuk memerintahkan nabi Musa untuk memimpin keluar Bani Israil dari tanah perbudakan mesir untuk kembali ketanah perjanjian. Ini tidak seperti kondisi kehidupan budaya yang seakan telah hilang tanpa arah. Anton secara gamblang tidak menginginkan sebuah ajaran agama yang tanpa pemahaman. Mengedepankan nilai-nilai agama dengan mengintegrasikannya dalam kemanusiaan, agama adalah urusan manusia dengan tuhannya, Negara tidak bisa mencampuri atau mengintervensi sesuai dengan Undang-undang 1945 pasal 29 ayat 2 yang isinya adalah “Negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya masing-masing dan untuk beribadat menurut agama dan kepercayaannya itu.” Didalam kesempatan ini sebagai konsekuensi apa yang disimpulkan diatas maka sejak tahun 1980 buat saya kefanatikan saya letakan kepada ALLAH yang ESA, menurut saya bangsa ini akan diberkati oleh allah apa bila kefanatikannya kepada ALLAH bukan kepada agama, maka apapun yang dikerjakan maka akan berhasil.
Lantas tak berarti manusia hanya harus menunggu keajaiban saja. Tak berarti masalah akan terhenti ketika manusia telah mengenal Tuhan. Perlu langkah nyata untuk mewujudkan konkret nyata guna membalikkan seluruh keterpurukan Indonesia pada era global ini. Langkah nyata yang dimaksudkan adalah terkait dengan pemilihan legislatif 9 April dan pemilihan presiden 9 juli 2009. Untuk memenangkan pileg perlu dilakukan strategi yang jitu, kalau hanya sekedar untuk mendapatkan 30% kursi DPR sesuai statmen ketua umum partai Golkar Yusup Kalla itu tidak mungkin tercapai kalau hanya diserahkan kepada kerja keras para caleg. Sebagai contoh pertama kali, partai Demokrat (USA) berhasil mendapatkan kemenangan mutlak diraih oleh presiden terpilih amerika Barack Obama, demikian pula DPR/MPR RI juga menang mutlak strategi seperti ini yang harus dilakukan oleh partai Golkar, dan disamping kerja keras para caleg ada nilai jual yang tepat yaitu Figur Sri Sultan Hamengkubuono X. Figur Obama adalah partai Demokrat dan juga figur Mecain partai Republik. Untuk diketahui Barack Obama maupun Mecain adalah bukan ketua umum partai Demokrat dan Republik. Penyaringan capres dilakukan melalui mekanisme The National Conversion Party atau Konvensi Nasional partai yaitu memilih capres dari internal kader partai, maka tersaring sampai terakhir Obama dan Mecain. Untuk itu Lesiangi adalah orang yang mendukung tetap dilakukannya Konvensi Nasional Partai yang penyaringan capres-nya tidak melalui lembaga survey. Karena lembaga survey hanya melakukan survey. Nilai posisi seseorang capres. Sedangkan Kompeksi Nasional Partai adalah suatu system yang sudah baku, tentang penyaringan dengan menseleksi internal kader partai dari tingkat desa/kelurahan, kecamatan, TK I, TK II sampai kepusat atau DPP Partai Golkar sampai akhirnya ditemukan seorang capres, yaitu Sri Sultan Hamengkubuono X sesuai hasil seluruh lembaga survey bahwa hanya ada 3 besar capres yaitu Susilo Bambang Yudhoyono, Sri Sultan Hamengkubuono X, dimana tambah satu lagi capres Prabowo Subianto dikaitkan dengan perubahan dan pembaharuan sudah tentu dibutuhkan pemimpin baru, dalam hal ini capres alternative yaitu Sri Sultan Hamengkubuono X dan Prabowo Subianto karena In Cumbeut sudah dinyatakan gagal dan hamper semua baik elit politik, pakar ekonomi mau-pun lembaga survey dengan indikator banyak aspek yang paling mencolok adalah tingkat kemiskinan yang mungkin membesar, rakyat mengakui susah hidupnya, biaya pangan serta kebutuhan pokok sehari-hari, yang sudah tidak terjangkau daya belinya.

“Kita butuh perubahan dan pembaruan.” Ujar Anton yang merupakan mantan anggota DPR Utusan Daerah NTT dari Partai Golkar (1982-1987), kemudian anggota MPR utusan daerah partai Golkar (1987-1992), dan sebagai anggota MPR dari utusan daerah partai Golkar (1998-2001)

“2009 adalah awal dari seluruh perubahan, sebuah rekonstruksi bagi Negara Indonesia,” tambahnya. Meskipun terdengar klise dan tidak realistis, Anton berani bertaruh dan memaparkan dengan sangat nyata bahwa PEMILU 2009 merupakan ujung tombak sebuah peradaban baru bagi rakyat Indonesia. Pada tanggal, 9 juli 2009 pilpres adalah titik penentuan nasib bangsa ini untuk memilih presiden dan wakil presiden yang tepat.

Ada beberapa titik terpenting untuk mengoyak massa tenggelam yang masih membelenggu bangsa. “Pertama, kembali lakukan amandemen UUD 1945 kepada yang asli.” Capres mendatang salah satu kotrak politik yang harus dilakukan adalah melakukan kembali kedepan UUD 1945 yang asli dengan catatan bagian 2 hal amandemen yang dilakukan. Tentu hal ini dimaksudkan agar bangsa ini kembali pada sebuah tatanan kehidupan yang teratur serta tetap dinamis dan terarah. Hal kedua yang tak kalah pentingnya, Melakukan perubahan total pada Legislatif, Eksekutif dan Yudikatif.” Hal ini harus! Karena sudah seharusnya sebuah perwakilan rakyat mengemban pesan rakyat, tidak mengedepankan kepentingan pribadi maupun golongan pada prioritas pertama yang kini merupakan tradisi. Titik ketiga adalah kontrak politik merakyat. Belajar dari masa lalu, Anton memaparkan tidak terlalu banyaknya departemen dalam kabinet di Indonesia jelas akan lebih memudahkan pembagian-pembagian tugas yang merata. “Indonesia hanya memiliki 33 provinsi, tetapi memiliki kurang lebih 40 kementerian. Bandingkan dengan Amerika yang hanya meiliki 54 negara bagian atau Negara Federal. Namun hanya beranggotakan kurang lebih 24 menteri.” Paparnya kepada wartawan 69++. Hal ini jelas memerlukan peninjauan ulang, apa dan bagaimana Indonesia harus memperbaiki badan konstitusi negara ini. Dan lebih lanjut, “jumlah 17 departeman Menko sekarang ini harusnya dihapuskan dan diganti sebagai tugasnya Presiden. Hal ini agar dapat menghemat keuangan Negara hingga Rp. 250 triliun yang nantinya bisa dialokasikan untuk subsidi rakyat,” tambahnya. Mantan anggota DPR-MPR RI ini, menginginkan pengontrolan langsung oleh rakyat kepada pemerintahan secara terbuka dan mengganti sistem Kontinental ke sistem Maritim. Yang dimana rakyat dapat memeriksa dan meneliti secara langsung hasil karya pemerintahan.
Diantara titik kritis yang perlu dikaji kembali, ada sebuah titik penentuan bagi Indonesia. Indonesia memimpikan seorang pemimpin yang mampu mendobrak Indonesia keluar dari kemelut krisis global. Indonesia telah lelah hanya diberikan janji-janji yang kosong tanpa membuahkan kenyataan. Dibutuhkan pemimpin yang bersandar pada Tuhan karena Ia-lah dibalik segalanya yang terjadi pada ciptaannya. Tuhanlah yang bekerja.

Ketum PB Lemkari ini mengidolakan tokoh Nelson Mandela dan Bung Karno untuk memberikan kualifikasi figur yang tepat sebagai pemimpin dan syarat pertamanya adalah . “performance appearancet.” Karena penampilan seorang presiden seperti Bung Karno, tidak bisa diwkili loleh orang lain, itulah yang kita rebut charisma Bung Karno. Sedangkan Brilliant ataucerdas adalah syarat kedua bagi seorang presiden, karena kepemimpinan yang cerdas, di ikuti dengan etika dan mora. Ini bisa dibuat melalui tim yang biasa disebut “The All Presidentmen” dari buku karangan Jhon F. Kenedy: Become A Good Leadozs.

Dua hal tersebut harus dapat disinergiskan menjadi satu hal yang dapat mengangkat kesuksesan seseorang. Kesuksesan terbesar yang ada pada dirinya kini ialah apa bila pada saat seluruh orang di sekelilingnya dapat terbantu dan hidup sejahtera.

Mengisahkan sedikit ceritanya tentang, Sri Sultan Hamengkubuwono X pada bualan April 2007 telah memutuskan.bersedia menjadi gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta. Saat itu pula Kick Andy melemparkan sebuah pernyataan yang mengejutkan. “Andi noya mengatakan anda ingin menjadi capres.” Kutip Anton mengenang. “saya tidak akan pernah mau menjadi capres, kecuali saya baru mau naik presiden billa Allah yang memerintahkan.” andi noya melanjutkan bagaimana sultan tahu ngusti Allah menghendaki anda menjadi capres, nanti waktu-nya juga akan datang bahwa rakyat akan mendesak untuk maju menjadi capres. Itulah harinya yang popular dengan istilah pisional agung/ageng 28 Oktober 2008. sekitar 400 orang berkumpul dilapangan timur kekayaan alam mobilisasi masa. Sultan dengan memakai kemeja batik lengan panjang berwarna hijau lumut naik dipentas podium langsung berkata “Atas kehendak Allah yang maha esasesuai panggilan Ibu pertiwi dan atas desakan saudara-saudara sembari menunjukan kearah rakyat dari seluruh Indonesia yang jumlahnya mendekati kurang lebih 400.000 orang, saya nyatakan maju jadi capres tahun 2009, vox popule vox dei (suara rakyat adalah suara tuhan).

Setelah menyaksikan acara Metro TV Save Our National jam 22-23 wib 21 Januari 2009, mungkin meyakinkan saya bahwa capres alternative Sri Sultan Hamengkubuono X, sebagian capres dan Prabowo sebagai capres yang akan menuangkan tahta untuk rakyat sebagai RI dari RI 2 periodik tahun 1009-2014.

Kembali Anton dengan sangat antusias mengutip kalimat Sultan Hamengkubuwono X yang tak pernah dilupakannya. Di sisi lain pun Prabowo merupakan seseorang yang religius dan cerdas. Prabowo pun generasi muda yang akan menjadi penerus bangsa di masa depan. Sangat tepat sekali apa bila tuk sebagai king maker berani menetapkan Sri Sultan Hamengkubuono X sebagai capres dan prabowo Subianto sebagai cawapres dari Partai Golkar.

Di balik keseharian serta kesibukannya sebagai salah satu tokoh penting perpolitikan Indonesia, Anton Lesiangi pun tetap seorang manusia biasa yang tak akan luput dari kesalahan. Namun ia berprinsip teguh, tak akan pernah menyulitkan orang lain. Biarlah daya berupaya menjadi sumber orang lain.

Bahkan sejak muda ia telah mandiri dan mengenyam pendidikan di Jepang pada tahun 1962 sampai 1970 di KEO University dan 1992-1996 di Adam Smith America Uni Versity. Anton mengakui tidak pernah berambisi menjadi lebih dari apa yang telah ada pada dirinya sekarang. Ia benar-benar menyadari bahwa hanya ada sebuah dorongan terbesar dalam pemicu hidupnya. Sebuah tempat dimana Anton selalu mendapatkan kehangatan dan keceriaan suasana setelah melewati satu hari yang melelahkan. “keluarga adalah nomor satu.” Ujar pria yang di karuniai lima orang anak ini.

Tokoh yang mengidolakan Bung Karno ini menyimpulkan, bahwa Tuhan memiliki rencana yang selalu indah. Tuhan tidak akan pernah meninggalkan kita jika kita tak meninggalkannya. Hal terbaik adalah menjalankan ketentuan yang telah diberikan Tuhan. "Segala sesuatu sudah diatur Tuhan. Kita sebagai manusia hanya menerima dan menjalankan ketentuan itu. Karena saya ingin mengalir seperti air, tidak mau muluk-muluk," tambahnya.

Kepala Negara Harus Bertangan Besi

Indra Sahnun Lubis, S.H. Seorang anak polisi yang menjadi Advokat di tahun 1990 an ini melihat ketidak adilan di negeri ini. Oleh sebab itu bang Lubis yang akrab disapa, telah mengabdikan diri dan menyediakan layanan hukum untuk memenuhi kebutuhan dan harapan klien yang dilaksanakan secara layak dan profesional serta cepat tanggap dengan memberikan bantuan hukum atas pertanyaan dan permintaan kliennya.

Anak kelima dari sembilan bersaudara ini sebelumnya diberitakan terdaftar ganda di dua partai. Tetapi sekarang Pengacara Indra Sahnun Lubis sudah tidak lagi terdaftar sebagai calon Partai Hati Nurani Rakyat, Indra Sahnun Lubis sekarang menjadi calon tetap Partai Keadilan dan Persatuan Indonesia PKPI dari daerah pemilihan Riau I nomor urut 1.Mantan Wakil Ketua Perhimpunan Advokat Indonesia (Peradi) Indra Sahnun Lubis terpilih sebagai Presiden Advokat Indonesia, Indra Sahnun Lubis terpilih menjadi presiden Kongres Advokat Indonesia melalui kongres I Advokat Se-Indonesia di Balai Sudirman, Jakarta Selatan.

Menurut ayah dari enam orang anak ini, masalah hukum di Indonesia sekarang ini masih sangat sulit. Karena banyaknya keputusan pengadilan yang sulit di eksekusi, walaupun bisa di eksekusi itu akan selalu ada permainan suap dan inilah yang sangat mengecewakan masyarakat.

“Dimana advokat sebagai penegak hukum itu sama dengan polisi, jaksa dan hakim. Tetapi para penegak hukum lainnya masih sinis terhadap advokat, sehingga tidak adanya implementasi antara advokat maupun instansi hukum lainnya,” cetusnya.

Tanggapannya, seiring apa yang dikatakan advokat bahwa undang-undang yang sudah dijalankan untuk kepentingan masyarakat itu sering bertentangan, sering salah paham, saling tidak adanya kebersamaan, sehingga yang rugi adalah masyarakat itu sendiri. “Masalah penangguhan penahanan, undang-undang sudah mengatur sarat-sarat dari pada penangguhan penahanan, tapi aparat yang bersangkutan arogannya cukup tinggi, sehingga akhirnya untuk penahanannya dan haknya tersangka itu harus di negoisasi,” cetusnya. Inilah yang dikatakan dari awal tadi bahwa masalah hukum kita ini sulitlah untuk mendapatkan suatu keadilan. “Jangankan masyarakat menengah kebawah, yang menengah keatas saja sudah sulit untuk mendapatkan keadilan,” tambahnya.


Oleh karena itu, penegak hukum sekarang ini tidak ada sedikit-pun tangan besi dari kepala Negara. Kemudian saya juga bicara keras kepada kepala Negara tentang masalah suap, cuma tidak ada perubahan sampai sekarang. “Jadi lebih banyak pejabat maupun anggota DPR bukan berjuang untuk kepentingan masyarakat, tetapi berjuang untuk kepentingan kelaompoknya maupun politiknya sendiri, jadi sangat sulit dan sampai kapanpun masyarakat tidak butuh itu,” cetusnya.

Saya sudah berbicara dimana-mana, dari Kongres Advokat Indonesia yang saya pimpin, bahwa advokat dibawah Kongres Advokat Indonesia tidak lagi bernegoisasi dengan keluarga yang mereka bela. Kalau kita pesimis untuk memperbaiki akhlak kita sendiri, kapan lagi dan itu tetap kita akan perjuangkan.

Ketika ditanya wartawan 69++ dikantornya dibilangan Kebayoran Baru Jakarta Selatan. Masalah tentang Partai Keadilan dan Persatuan Indonesia (PKPI). “Saya di PKPI diminta untuk menjadi ketua dibidang hukum. dengan partai politik ini mungkin saya bisa menyuarakan bagaimana penegakkan hukum itu supaya dapat diharapkan masyarakat.”

Sesama partai politik juga tidak adanya satu komitmen dalam rangka penegakan hukum. Makanya saya bilang, kepala Negara itu harus bertangan besi dalam rangka penegakan hukum. Seperti anggota DPR di komisi III bidang hukum bahwa banyak-nya kepentingan-kepentingan politik bagi partai politik dan tidak memperjuangkan dari pada kepentingan hukum untuk masyarakat.

Pengacara ini mencoba untuk berada di partai yang kecil dan mencoba untuk membesarkannya. Seperti baru-baru ini saya berbicara di Televisi lokal di Riau selama satu jam, dengan kepentingan hukum untuk masyarakat. Dari partai kecil ini masyarakat akan melihat sendiri. Kalau dari partai besar saya berbicara masyarakat sudah tahu, orang tidak akan memilih dan tidak akan mendengarkan saya. Oleh karena itu, partai besar ini tidak serata apa yang diperjuangkan, bukan untuk kepada kepentingan masyarakat. Contoh, Partai besar yang menjual Gas ke Cina dengan harga sangat murah. Kepala Negara kita tidak sanggup merubah itu, tidak berani menghentikan itu. Kenapa menjual Gas ke Jepang jauh lebih tinggi? Kenapa ke Cina lebih murah? Misalnya, Bahan Bakar Minyak (BBM) ini hanya dijadikan ajang kepentingan bagi partai politik. Partai Demokrat contohnya, membuat iklan di media agar terlihat kepemimpinan SBY sudah dua kali menurunkan harga BBM, padahal harga itu bisa jauh lebih turun lagi. Mengapa mau menurunan BBM saja harus diumumkan? seprti bulan depan BBM akan turun. Seharusnya minyak dunia turun Negara kita segera langsung menurunkan harga BBM, bukan harus ditentukan bulan depan. Itu namanya sudah menunda-nunda kesejahteraan rakyat. Karena menjadi opini, membangun suatu kepentingan partai politiknya yang seolah-olah ini adalah perjuangan dari kepala Negara. “Cuma Negara kitalah yang menentukan bulan depan BBM akan turun, padahal Negara lain seperti, Singapur dan Malaysia langsung turun ketika minyak dunia turun,” cetusnya.

Pengacara ini mencontohkan gaya berpolitiknya seperti tokoh Mohammad Hatta. Dari tahun 1931 jauh sebelum Indonesia merdeka sudah berjuang untuk mensejahterakan masyarakat.

Banyak contoh-contoh yang menurut bang Lubis tidak sesuai dengan dirinya, ketika harga kacang kedelai naik, Negara kita kalang kabut. Itulah tidak mengertinya kepala Negara bahwa ini adalah kepentingan permainan para pedagang. “Kita saja import kacang kedele,” cetusnya. Ketika kacang kedele harganya naik, banyak masayrakat yang bertambah susah, apa lagi kebayakan masyarakat kita banyak yang mengkonsumsi sehari-harinya tempe, kalau makan tempe saja susah, seperti apa masyarakat Indonesia ini? Malulah pemerintah kita. Maka dengan itu, masuklah kacang kedele import ke Indonesia tampa biaya. Bagaimana hancurnya petani kita, bukannya kita berjuang bagaimana membangun petani kacang kedele supaya makmur.

Di Indonesia berapa juta hektar kelapa sawit, karet? Presiden Advokat Indonesia ini pernah membaca majalah Trubus yang isinya menceritakan program-program tentang tanaman Karet dan Sawit. Itu di sela-sela tanaman sawit dan karet dapat ditanami kacang kedele, kacang yang tidak mengganggu tanaman keras. Kenapa tidak diberikan pupuk? Kenapa tidak di beri kemudahan, seperti tanah itu dibawa ke lab, tanah ini cocok di tanam apa? Apakah jagung, kacang kedele, kacang,dsb. Dan masalah ini tidak ada bantuan dari pemerintah.

“Kenapa harus bahan bakar yang disubsidi?” cetusnya. Ini saja yang kita bangun sudah luar biasa. Tetapi masalah pertanian yang dianggarkan hannya cuma tanam padi yang waktu panennya menteri sama petaninya sedang memanen padi agar di liput oleh media, kita nampak seolah-olah menanam padi tetapi masih mengimport beras. Lihat Vietnam Negara yang hancur-hancuran, agrarisnya luar biasa. saya sudah pernah melihat kesana dan saya masuk kepasar Australia, Inggris, itu bisa beli kecipir. Kita Singapura dan Malaysia saja tidak bisa masuk karena lemahnya menteri perdagangan kita, “Cuma itu saja kita tidak mampu,” cetusnya berapi-api.

Demokrasi or Democrazy

Text : Faisal Hamid
Berbuatlah yang terbaik bagi bangsa dan Negeri ini…
Dan juga sesama umatmu…
Karena hidup begitu pendek…
dan tidak akan terulang…

Terlahir dari keluarga guru jemaah kecil gereja, tak menyusutkan niatnya untuk meraih mimpi. Gereja kecil nan terpencil membuatnya begitu dekat dengan Tuhannya dan peduli terhadap sesama umatnya. Kecintaannya akan negeri membangkitkannya untuk berani bertarung di dunia yang kini membesarkannya. Pengorbanannya mengantar pada kesuksesan yang tak bernilai materi.

Dialah Ir.Leo Nababan, image pengusaha harus ditanggalkan demi kecintaannya pada dunia politik. Pria kelahiran Sei Rampah, Sumatera Utara kini menjabat sebagai Staf khusus Ketua DPR-RI. Hati nurani, ya itulah yang kini diperjuangkannya. Darah aktivisnya melawan segala praktik yang bertentangan dengan nalurinya. Suara vokalnya merupakan cerminan dari kegemarannya menyaksikan realita di televisi.

Ya televisi, kegemarannya menyaksikan televisi inilah yang mengkonstruksi cara berpikir dan kritisnya akan realita yang tengah dihadapi masyarakat. Kegemarannya ini pula yang mengantar pada pekerjaannya kini. Sebagai staf khusus ketua DPR-RI memang sudah menjadi tugasnya menginformasikan perihal berita yang melibatkan atasannya. “Saya harus memantau kegiatan ketua DPR-RI dalam setiap pemberitaan, dengan begitu saya dapat menginformasikan apa yang tengah terjadi pada beliau,” ujarnya pada 69++ beberapa waktu lalu. “Agar nanti beliau tidak kaget bila diserbu wartawan,” tambahnya. Loyalitas pada pekerjaannya itu memang pantas diacungi jempol.

Mantan aktivis yang kini menjadi bagian penting dalam kinerja Ketua DPR-RI ini memang berbeda dengan politikus lainnya. Tentu saja, dengan latar belakangnya itu membuat dirinya lebih berorientasi dengan kepentingan masyarakat kelas bawah. Karena memang itulah yang seharusnya dilakukan politikus. Begitu banyak politikus yang mengaku menyuarakan hati nurani, namun hati nurani yang diserukan lebih berorientasi pada kepentingan pribadi. Lain halnya dengan yang diperjuangkan suami dari Dr.Fabiola Alvisia Latu Batara ini, poltikus menurutnya harus mempunyai orientasi untuk membela rakyat bawah. “Seorang politikus itu bila tidak membela masyarakat bawah tidak politis namanya,” tandasnya. Baginya suara rakyat adalah suara Tuhan. Apa yang sudah diamanatkan rakyat merupakan apa yang telah diamanatkan Tuhan pula. Cinta kasih akan sesama manusia merupakan kekuatannya untuk menjalankan amanat tersebut, basicnya sebagai aktivis memperkuat pula integritasnya pada masyarakat.

Ketika ditanya mengenai kondisi politik negeri, pria yang mendedikasikan hidupnya untuk partai Golkar ini dengan objektif mengatakan bahwa apa negeri ini telah mengalami perubahan yang jauh kerarah perbaikan, “Negara Indonesia telah menjadi Negara demokrasi ke-3 di dunia,” ujarnya bangga. Akan tetapi, dirinya mengakui masih banyak yang harus dibenahi dalam Undang-undang Dasar 1945. Dirinya menilai Undang-undang Dasar 1945 walaupun sudah diamandemen masih berpihak dari ‘bandul satu ke bandul yang lain’. Beliau juga memandang bahwa antara demokrasi dengan kesejahteraan rakyat tidak berubah secara signifikan. “Kesejahteraan rakyat masih jauh dan sangat menurun. sedangkan demokrasi kian mengalami kemajuan yang pesat. Dalam hal ini, yang perlu dipahami adalah demokrasi itu bukan democrazy,” tandasnya.

Demokrasi memang banyak menelurkan partai-partai baru, namun ironisnya bermunculannya partai-partai baru itu tidak disertai dengan kriteria jelas yang seharusnya dimiliki oleh partai-partai tersebut. “Harus adanya kriteria sistem yang benar pada partai politik” ujarnya. Dirinya juga menambahkan pergelutannya dengan partai Golkar selama 25 Tahun membuat dirinya lebih banyak belajar tentang bagaimana seharusnya partai politik itu. Dan menurutnya tidak semua partai memiliki kriteria seperti partai yang membesarkan namanya seperti sekarang ini.

Perihal kategori pemimpin yang idealnya baginya, pria yang mempunyai hobi Golf ini berpendapat bahwa yang dibutuhkan Negara kita adalah pemimpin yang tidak munafik dan tentunya pemimpin yang mempunyai jiwa visioner. “Pemimpin yang perkataan-perkataannya yang sama dengan prilaku yang diambil,” ungkapnya. “Namun tidak semerta-merta demikian, baginya pemimpin yang berkualitas harus diiringi oleh masyarakat yang tertata pula. Karena tidak ada keberhasilan sebuah pemimpin di dunia ini bila rakyatnya carut-marut,” tambahnya.

Ya, Ir. Leo Nababan, tokoh yang patut diperhitungkan ekstitensinya. Dengan loyalitasnya yang begitu besar terhadap negerinya. Menjadikannya tokoh yang selama ini dinanti-nanti

Ingin cari teman sebanyak-banyaknya

Didi Supriyanto, SH dilahirkan di Solo 28 November 1962 sebagai anak Tunggal. Meski lahir di Solo, penyuka olahraga golf ini pindah ke Jakarta sejak tahun 1965. Besar dalam keluarga Jaksa membuat Didi tertarik melihat suasana persidangan. Karena ketertarikan akan hal itulah yang membuatnya bercita-cita menjadi lawyer.

Didi mulai mewujudkan cita-citanya. Ia masuk ke fakultas hukum Universitas Jayabaya pada tahun 1981. Setelah lulus kuliah, suami dari Sandra Oktaria ini mulai menjalani profesi sebagai pengacara pada kantor advokat.

Kasus-kasus demi kasus ia tangani. Dari ruang sidang satu ke ruang sidang yang lainnya. Hingga pada tahun 1996 saat kerusuhan 27 Juli terjadi, Didi bersama pengacara senior R.O Tambunan menangani kasus yang menimpa PDI Pro Mega waktu itu. Didi pun bergabung di Tim Pembela Demokrasi Indonesia (TPDI) dimana kemudian ia menjadi Sekjennya.

Perkenalannya dengan para aktivis partai politik membuat Didi terjun ke dunia politik. Ia pun mulai bergabung dengan PDI Pro Mega yang kemudian berganti nama nama menjadi PDI Perjuangan (PDI-P).

Didipun dicalonkan menjadi wakil rakyat mendampingi Megawati Soekarnoputeri di Pemilu 1999. “Jadi waktu itu Ibu Mega nomor urut satu. Kemudian ketua DPD nya nomor urut dua dan nomor urut tiganya saya” katanya.


Didi berhasil melenggang ke Senayan menjadi anggota DPR/MPR RI dari PDI-P. Pria yang tinggal di kawasan Depok ini menyelesaikan masa baktinya sebagai wakil rakyat pada tahun 2004.

Bertahun-tahun ia bergabung ke dalam PDI-P, Didi mulai mencium gelagat kurang sedap di tubuh partainya. Ia merasa arah partai berjalan menjadi feodalistik. Konflik ditubuh PDI-P yang melibatkan kader-kadernya tak terhindarkan.

“Kita gak suka gaya kepemimpinan feudal. Kita berontak Bahkan sampai kongres di Bali gak berhasil juga.” Kenangnya. Didi bersama kader lainnya seperti (Alm) Sophan Sophian membangun sebuah Gerakan Pembaruan di tubuh PDI-P. Gerakan ini akhirnya tak kuasa terus menerus berkonflik. Akhirnya atas saran dan dukungan dari beberapa temannya, Didi memutuskan keluar dari PDI-P dan mendirikan partai politik baru bernama Partai Demokrasi Pembaruan (PDP).

Makna “pembaruan” disini ia maknai sebagai pembaruan sesungguhnya dari sebuah partai politik. “Kita pakai sistem kepemimpinan yang baru. Tidak ada ketua umum tidak ada Sekjen. Pimpinannya kolektif. Sistem ini adalah jawaban atas apa yang kita anggap sebagai kemunduran demokrasi karena sistem yang feodal tadi.” ujarnya.

Baginya sebuah keputusan harus diambil berdasarkan musyawarah dan diputuskan kolektif karena fungsi ketua hanya untuk mengeksekusi keputusan yang diambil. “Itulah yang membuatnya saya ingin mewujudkan sila ke lima Pancasila” tambahnya.

Didi menganggap masalah keadilan dan kesejahteraan rakyat memang masalah yang begitu pelik menjangkiti Negara ini. “Kandungan bumi kita sangat kaya. Harusnya kita makmur dan kaya. Tapi begitu merdeka pemimpin kita tidak bisa membuat rakyat sejahtera.” lanjutnya.

Kini, Direktur Utama PT. Infoasia, Tbk ini menjalani karir politik baru yang ia dirikan bersama teman-temannya. “Cita-cita saya cuma ingin melakukan perubahan bagi rakyat dan ingin anak cucu kita diwarisi dengan hal yang baik. Lewat partai baru ini saya ingin mengabdi” tuturnya serius.

“Saya harap tidak ada lagi orang yang kelaparan. Anggaran Negara dari pajak harus kita alokasikan untuk saudara kita yang kelaparan” kata Sekretaris Pelaksana Harian PKN PDP ini.

Ditanya mengenai program yang ia usung Didi menjawab ada tiga garis besar yang menjadi konsernnya, yaitu kesehatan, pendidikan dan infrastruktur. “Pemerintah harus fokus pada tiga hal ini.” katanya.

Namun mungkin tidak ada yang tahu jika seorang Didi Supriyanto, sangat takut dengan anjing. Ia punya pengalaman buruk dengan binatang yang satu itu. Pria penyuka fitness menuturkan saat kecil pernah diterkam anjing. “Waktu saya main ke rumah jaksa agung langsung saja anjing itu terkam saya. Sampai sekarang saya takut sama anjing.” katanya sambil tertawa.

Sukses di dunia bisnis dengan membawahi berbagai perusahaan dan memimpin partai politik, membuat Didi senang berinteraksi dengan banyak orang. “Filosofi hidup saya ingin mencari teman sebanyak-banyaknya sebagai saudara” katanya. Karena saya ini anak satu-satunya dikeluarga jadi saya paling senang mencari teman sebanyak mungkin dan ini yang akan menjadi saudara saya.

Lalu bagaimana dengan keluarga Didi?

Kesibukannya yang banyak memang membuat porsi keluarga menjadi agak berkurang. Namun ayah enam anak ini mengatakan, dirinya selalu mencari waktu terbaik untuk keluarga. “Saya sudah kasih pengertian ke mereka kalau saya ini kan bukan cuma milik keluarga. Tapi juga milik orang banyak.” ujarnya.

Meski begitu Komisaris PT Asuransi Jasa Indonesia ini bersyukur bisa membagi waktu dengan keluarga tercinta. Setiap liburan mereka habiskan dengan berkumpul dan jalan bersama. Karena baginya keluarga memiliki peran yang penting dalam mendukung karirnya. “Ketika di luar banyak masalah, di keluarga satu-satunya tempat yang membuat saya nyaman” kata pria yang hobi travelling ini.

Gaya Hidup Berpolitik

Hujan interupsi mewarnai sidang di gedung DPR/MPR. Pemerintah berencana menaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM). Kontroversi pun menguak. Hampir semua fraksi di DPR menghujat rencana pemerintahan SBY itu. Namun ada satu fraksi yang tanpa ragu-ragu mendukung kebijakan kenaikan harga BBM ini. Fraksi Partai Demokrat.

Kegigihan Fraksi Partai Demokrat menghadapi berbagai kritikan pedas, intrik politik di DPR terkait kebijakan pemerintah tak lepas dari kevokalan sosok yang satu ini. Dialah yang memimpin gerbong Fraksi Partai Demokrat di DPR, bernama Syarifuddin Hasan.

Politisi yang biasa disapa Syarief Hasan ini dilahirkan di Palopo pada 17 Juni 1946. Syarief merupakan sulung dari 10 bersaudara dari pasangan Muhammad Hasan dan Siti Asiah Bandie.

Ayahnya yang seorang ulama membuat kehidupan keluarga Syarief Hasan tak jauh dari nuansa religius.

Di sekolah, Syarief memiliki segudang prestasi. Bahkan bakat kepemimpinannya sudah tampak semasa remaja. Saat duduk di bangku SMA ia pernah menjadi ketua Persatuan Siswa atau yang disebut OSIS saat ini. Karena kepiawaiannya berorganisasi di sekolah yang mebuat Syarief diangkat menjadi Ketua I Persatuan Siswa SMA se-Sulawesi Selatan dan Tenggara.


Selepas menamatkan SMA tahun 1967, Syarief yang bercita-cita menjadi Tentara sejak kecil mulai berpikir juga untuk menjadi Insinyur. Baginya Insinyur adalah profesi yang menjanjikan bagi masa depan.

Syarief akhirnya diterima di Fakultas Teknik Jurusan Elektronika Universitas Hasanuddin (Unhas). Diterima di Unhas tidak membuat mimpinya menjadi tentara musnah begitu saja. Sekolah Elektronika Angkatan Laut (SEAL) Institut Teknologi Bandung memanggilnya. Namun takdir berkata lain. Syarief gagal dalam test tahap ke dua. “Obsesi jadi tentara boleh saja lepas, tapi jadi insinyur harus kesampaian.” Ujarnya.

Kuliahnya di Unhas tidak berjalan mulus. Syarief memiliki obsesi baru, yaitu kuliah di luar negri. Berkali-kali ia melayangkan surat permohonan beasiswa. Berkali-kali juga Syarief kecewa. Perjuangannya tak sia-sia, Syarief diterima untuk training pusat pelatihan rekondisi alat-alat berat terkemuka di Tokyo, Jepang.

Tiga tahun Syarief menimba ilmu di Jepang. Kabar yang tak terduga datang dari Jakarta. Syarief ditawari pekerjaan oleh United Tractors, sebuah anak perusahaan Astra. Sukses di karir Syarief mulai menapaki berwiraswasta.

Merasa sudah mapan Syarief memberanikan diri menikah pada tahun 1975 di Bandung. Dari pernikahannya pertamanya, Syarief dikaruniai tiga orang anak. Meski telah dianugrahi tiga orang anak bahtera rumah tangga pasangan ini kandas juga. Pertengahan 1988 Syarief bercerai.

Di tengah kepenatan akibat masalah perceraiannya, Syarief yang juga sudah mulai usahanya sendiri melanjutkan kuliah di Amerika. Sepulang dari Amerika Syarief mulai melebarkan lahan usaha yang ia bangun. Jadilah kini ia seorang pengusaha sukses.

Sebagai seorang pengusaha sukses Syarief mulai berpikir mencari pendamping hidup yang baru. Dengan niat yang suci, Syarief menikahi wanita yang terpaut jauh usianya dengan dirinya yang bernama, Ingrid Kansil pada 26 Juni 1999 di Cianjur, Jawa Barat. Bersama Ingrid Kansil yang juga dikenal sebagai presenter, Syarief dianugerahi seorang puteri bernama Ziankha Amorrette Fatimah Syarief.

Prestasinya di dunia bisnis yang mengayomi cukup banyak karyawan ternyata menimbulkan kepuasan tersendiri bagi dirinya. “Ditengah kondisi saya yang berkecukupan saya melihat masih banyak yang perlu uluran tangan. Saya tergerak untuk berpartisipasi langsung” kata Syarief yang mulai berpikir untuk terjun ke dunia politik.

Alasan inilah yang membuat Syarief ingin memberi hasil yang signifikan bagi masyarakat. Salah satu cara pikirnya saat itu adalah dengan terjun langsung ke dunia politik. “Kalau kita di luar kurang efektif. Tapi kalau kita di dalam dunia politik kita akan punya kontribusi langsung dan lebih efektif” cetusnya waktu itu.

Di waktu yang bersamaan seorang tentara bernama Susilo Bambang Yudhoyono dicalonkan menjadi Wakil Presiden untuk mendampingi Megawati. Meski tak berhasil naik menjadi Wakil Presiden, SBY nampaknya berhasil memikat hati Syarief waktu itu. “Ini dia sosok pemimpin yang paling cocok untuk Indonesia” gumamnya waktu itu.

Sekitar pertengahan Oktober 2001, Syarief mendapat telepon dari Wayan Sugiana yang mengajaknya bergabung ke sebuah partai politik. Syarief hanya menanyakan dua hal, nama partai dan siapa pendirinya. Wayan dengan lugas menjawab, Partai Demokrat dan SBY.

Mendengar nama SBY sontak Syarief tak berpikir lama lagi. Ia langsung sepakat untuk bergabung dengan Partai Demokrat yang mengusung SBY sebagai calon presiden waktu itu. Sebagai konsekuensinya terjun ke pentas politik Syarief memang harus meninggalkan dunia bisnis yang selama ini membesarkannya dan total terjun ke dunia politik.

Sukses mengantar SBY ke kursi presiden membuat Syarief dan Partai Demokrat harus menahan cibiran miring bahkan kritik pedas dari lawan politik terkait kebijakan pemerintah. Meskipun begitu Syarief tak bergeming. Baginya apa yang sudah dijalankan oleh Pemerintah saat ini merupakan yang terbaik di pemerintahan sebelumnya.

“Apa yang pemerintahan SBY lakukan saat ini sudah di track yang benar dan proses yang benar.” Kata Syarief. Untuk itu dirinya menambahkan yang pertama harus ia dan partainya lakukan adalah mengawal kebijakan pemerintah. Karena Syarief yakin kebijakan pemerintah ditujukan untuk kesejahteraan rakyat.

“Kebijakan pemerintah saat ini juga merupakan kontribusi dari Partai Demokrat. Jadi yang penting bagi saya adalah mengawal kebijakan itu karena kebijakan itu adalah untuk mensejahterakan rakyat” tambah Syarief yang ditemui di rumahnya beberapa waktu lalu.

“Pertama kita lihat pertumbuhan ekonomi masih di atas rata-rata. Itu juga parameter untuk melihat prestasi pemerintah saat ini. Kita harus mensyukuri kondisi bangsa saat ini” tambahnya.

Kini Syarief bersama Partai Demokrat menatap Pemilu 2009 dengan keyakinan yang mantap untuk berbuat lebih banyak kepada rakyat. Di Pemilu nanti dirinya berharap tak ada lagi partai yang mendukung pemerintah namun bersikap seolah-olah seperti oposisi.

“Etika politiknya tidak jelas. Kalau mendukung pemerintah dia harus total dengan konsekuensinya. Jangan ada lagilah seperti itu nanti.” Harap politisi yang sangat mencintai keluarga ini.

Pemilu 2004 yang telah berhasil mengantarkan Syarief duduk di bangku parlemen membuat Syarief masih ingin memberikan sumbangsihnya bagi masyarakat. Selain menjabat sebagai Ketua Fraksi Partai Demokrat di DPR-RI, Syarief juga menjabat sebagai Wasekjen DPP Partai Demokrat. Syarief pun kembali mencalonkan diri sebagai calon anggota parlemen di Pemilu 2009 nanti.

“Saat ini program yang ada seperti UMKM, Kredit Untuk Rakyat (KUR) sudah bagus dijalankan oleh pemerintah. Jadi perlu ditingkatkan. Inilah yang akan menjadi fokus saya jika terpilih lagi di 2009. Pembinaan sektor riil, ekonomi menengah ke bawah” Ujar pria yang memiliki hoby bermain tenis ini.
“Beri kami satu periode lagi” tegas Syarief dengan yakin.

Dibalik segudang kegiatannya di dunia politik ternyata Syarief seorang sosok yang sangat mencintai keluarga. Baginya keluarga memiliki peran vital dalam penunjang dalam karirnya di dunia bisnis dan politik

Bagi lelaki yang memiliki filosofi hidup menyerahkan segala urusan kepada Tuhan ini, keluarga melengkapi kehidupannya. “Jika kehilangan keluarga maka kita akan kehilangan hidup kita” ujarnya di akhir wawancara 69++