Spiga

Ingin cari teman sebanyak-banyaknya

Didi Supriyanto, SH dilahirkan di Solo 28 November 1962 sebagai anak Tunggal. Meski lahir di Solo, penyuka olahraga golf ini pindah ke Jakarta sejak tahun 1965. Besar dalam keluarga Jaksa membuat Didi tertarik melihat suasana persidangan. Karena ketertarikan akan hal itulah yang membuatnya bercita-cita menjadi lawyer.

Didi mulai mewujudkan cita-citanya. Ia masuk ke fakultas hukum Universitas Jayabaya pada tahun 1981. Setelah lulus kuliah, suami dari Sandra Oktaria ini mulai menjalani profesi sebagai pengacara pada kantor advokat.

Kasus-kasus demi kasus ia tangani. Dari ruang sidang satu ke ruang sidang yang lainnya. Hingga pada tahun 1996 saat kerusuhan 27 Juli terjadi, Didi bersama pengacara senior R.O Tambunan menangani kasus yang menimpa PDI Pro Mega waktu itu. Didi pun bergabung di Tim Pembela Demokrasi Indonesia (TPDI) dimana kemudian ia menjadi Sekjennya.

Perkenalannya dengan para aktivis partai politik membuat Didi terjun ke dunia politik. Ia pun mulai bergabung dengan PDI Pro Mega yang kemudian berganti nama nama menjadi PDI Perjuangan (PDI-P).

Didipun dicalonkan menjadi wakil rakyat mendampingi Megawati Soekarnoputeri di Pemilu 1999. “Jadi waktu itu Ibu Mega nomor urut satu. Kemudian ketua DPD nya nomor urut dua dan nomor urut tiganya saya” katanya.


Didi berhasil melenggang ke Senayan menjadi anggota DPR/MPR RI dari PDI-P. Pria yang tinggal di kawasan Depok ini menyelesaikan masa baktinya sebagai wakil rakyat pada tahun 2004.

Bertahun-tahun ia bergabung ke dalam PDI-P, Didi mulai mencium gelagat kurang sedap di tubuh partainya. Ia merasa arah partai berjalan menjadi feodalistik. Konflik ditubuh PDI-P yang melibatkan kader-kadernya tak terhindarkan.

“Kita gak suka gaya kepemimpinan feudal. Kita berontak Bahkan sampai kongres di Bali gak berhasil juga.” Kenangnya. Didi bersama kader lainnya seperti (Alm) Sophan Sophian membangun sebuah Gerakan Pembaruan di tubuh PDI-P. Gerakan ini akhirnya tak kuasa terus menerus berkonflik. Akhirnya atas saran dan dukungan dari beberapa temannya, Didi memutuskan keluar dari PDI-P dan mendirikan partai politik baru bernama Partai Demokrasi Pembaruan (PDP).

Makna “pembaruan” disini ia maknai sebagai pembaruan sesungguhnya dari sebuah partai politik. “Kita pakai sistem kepemimpinan yang baru. Tidak ada ketua umum tidak ada Sekjen. Pimpinannya kolektif. Sistem ini adalah jawaban atas apa yang kita anggap sebagai kemunduran demokrasi karena sistem yang feodal tadi.” ujarnya.

Baginya sebuah keputusan harus diambil berdasarkan musyawarah dan diputuskan kolektif karena fungsi ketua hanya untuk mengeksekusi keputusan yang diambil. “Itulah yang membuatnya saya ingin mewujudkan sila ke lima Pancasila” tambahnya.

Didi menganggap masalah keadilan dan kesejahteraan rakyat memang masalah yang begitu pelik menjangkiti Negara ini. “Kandungan bumi kita sangat kaya. Harusnya kita makmur dan kaya. Tapi begitu merdeka pemimpin kita tidak bisa membuat rakyat sejahtera.” lanjutnya.

Kini, Direktur Utama PT. Infoasia, Tbk ini menjalani karir politik baru yang ia dirikan bersama teman-temannya. “Cita-cita saya cuma ingin melakukan perubahan bagi rakyat dan ingin anak cucu kita diwarisi dengan hal yang baik. Lewat partai baru ini saya ingin mengabdi” tuturnya serius.

“Saya harap tidak ada lagi orang yang kelaparan. Anggaran Negara dari pajak harus kita alokasikan untuk saudara kita yang kelaparan” kata Sekretaris Pelaksana Harian PKN PDP ini.

Ditanya mengenai program yang ia usung Didi menjawab ada tiga garis besar yang menjadi konsernnya, yaitu kesehatan, pendidikan dan infrastruktur. “Pemerintah harus fokus pada tiga hal ini.” katanya.

Namun mungkin tidak ada yang tahu jika seorang Didi Supriyanto, sangat takut dengan anjing. Ia punya pengalaman buruk dengan binatang yang satu itu. Pria penyuka fitness menuturkan saat kecil pernah diterkam anjing. “Waktu saya main ke rumah jaksa agung langsung saja anjing itu terkam saya. Sampai sekarang saya takut sama anjing.” katanya sambil tertawa.

Sukses di dunia bisnis dengan membawahi berbagai perusahaan dan memimpin partai politik, membuat Didi senang berinteraksi dengan banyak orang. “Filosofi hidup saya ingin mencari teman sebanyak-banyaknya sebagai saudara” katanya. Karena saya ini anak satu-satunya dikeluarga jadi saya paling senang mencari teman sebanyak mungkin dan ini yang akan menjadi saudara saya.

Lalu bagaimana dengan keluarga Didi?

Kesibukannya yang banyak memang membuat porsi keluarga menjadi agak berkurang. Namun ayah enam anak ini mengatakan, dirinya selalu mencari waktu terbaik untuk keluarga. “Saya sudah kasih pengertian ke mereka kalau saya ini kan bukan cuma milik keluarga. Tapi juga milik orang banyak.” ujarnya.

Meski begitu Komisaris PT Asuransi Jasa Indonesia ini bersyukur bisa membagi waktu dengan keluarga tercinta. Setiap liburan mereka habiskan dengan berkumpul dan jalan bersama. Karena baginya keluarga memiliki peran yang penting dalam mendukung karirnya. “Ketika di luar banyak masalah, di keluarga satu-satunya tempat yang membuat saya nyaman” kata pria yang hobi travelling ini.

0 komentar: