Spiga

Kaki-Kaki Lincah dan Tangguh

Text by: Riyan Hadinafta
Ada yang bilang bahwa olah raga ini adalah gabungan antara sepak bola dan voli. Karena permainan ini dimainkan dengan menggunakan kaki, di lapangan yang besarnya hampir sama dengan lapangan voli serta dibatasi oleh jaring. Ada yang bilang juga bahwa olah raga ini adalah bentuk adaptasi permainan tradisional suku melayu sejak zaman dahulu kala.
Secara historis, olah raga sepak takraw dapat ditelusuri dalam beberapa versi. Beberapa situs kebudayaan dan olah raga melayu menyatakan bahwa olah raga sepak takraw adalah bentuk adaptasi permainan anak muda melayu masa lampau yang disebut sepak raga. Meskipun permainan ini juga masih sangat populer hingga sekarang. Ada pula yang mengatakan bahwa sepak takraw adalah olah raga yang murni berasal dari negara gajah putih Thailand.

Terlepas dari beragamnya cerita mengenai sejarah olah raga yang satu ini, sepak takraw boleh dikatakan adalah olah raga yang mampu memcapai popularitas di dunia Internasional dengan cukup cepat. Sejak masuknya olah raga ini menjadi cabang olah raga resmi pada PON 1985, sepak takraw mengalami perkembangan yang cukup pesat dari segi ragam kelas yang dipertandingkan. Yakni tim, beregu, dan kelas permainan hook. Kelas yang terakhir ini boleh dikatakan adalah kelas yang paling baru dan yang paling menarik, karena memiliki tingkat kesulitan yang cukup tinggi bagi pemain takraw.

Bagi pemain takraw, kemampuan fisik serta kekuatan kaki adalah modal utama. Karena dalam olah raga ini, para pemain takraw tidak boleh menyentuh bola dengan tangan. Untuk memasukkan bola ke bidang lawan pemain takraw juga harus melakukannya dengan kaki. Sehingga, jika kita perhatikan akan banyak sekali modifikasi tendangan dan lompatan salto, tendangan menyilang, memutar, dan tendangan ke belakang. Itulah yang membuat olah raga ini cukup sulit untuk dimainkan oleh pemula. Akan tetapi, hal itu pula yang menjadikan olah raga ini sangat menarik untuk ditonton.


Ada baiknya kita kupas sedikit mengenai olah raga yang sudah memberikan sumbangan emas di Asean Beach Games, Bali kemarin. Olah raga ini seperti yang sudah dijeaskan di atas terbagi menjadi tiga kelas. Yaitu tim, beregu, dan hook. Masing masing tim dimainkan oleh tiga orang, yang terdiri atas server, pengumpan, dan penyerang. Susunan ketiga orang ini tidak boleh berubah selama pertandingan berlangsung. Kemenangan ditentukan oleh tim yang mencapai angka 21 terlebih dahulu. Itu artinya, tim tersebut telah memasukkan bola sebanyak 21 kali. Akan tetapi, kesalahan yang dilakukan oleh tim lawan, juga akan memberikan sumbangan nilai bagi tim yang bersangkutan. Jika selama dua kali berturut-turut suatu regu bisa mencapai skor 21, maka regu tersebut bisa dikatakan menang. Jika tidak, maka akan ditentukan dengan melakukan penambahan seri. Ya, seperti permainan bulu tangkis.

Ada lagi modifikasi permainan baru dari olah raga ini. Namanya hook. Permainan ini awalnya diperkenalkan oleh negara Thailand. Itu pula mungkin yang memperkuat sejarah bahwa Thailand-lah yang menjadi nenek moyang olah raga ini. Permainan hook ini adalah permainan yang lebih menonjolkan skill individu, dibanding kekompakan tim. Seorang pemain hook diharuskan memasukkan bola takraw ke dalam sebuah keranjang yang tergantung setinggi 6 - 7 meter di atas mereka. Akan tetapi, waktu dan cara memasukkan harus sesuai dengan ketentuan. Satu orang dari masing-masing tim hanya diberi waktu sebanyak lima menit dengan delapan jenis variasi tendangan untuk memasukkan bola ke dalam jaring atau keranjang tergantung tersebut. Variasi tendangan itu diantaranya adalah, menyilang, salto, tendangan depan, tendangan belakang. Selain itu juga bisa dengan menggunakan kepala dan bahu. Penentuan kemenangan untuk permainan jenis ini adalah akumulasi nilai dari tim yang terdiri atas lima orang.

Di Indonesia sendiri, walaupun merupakan salah satu negara yang memiliki catatan sejarah mengenai olah raga ini, perkembangan sepak takraw belum bisa dikatakan maju. Popularitas olah raga ini dibanding olah raga lainnya seperti sepak bola juga tidak terlalu baik. Hal itu mungkin disebabkan karena tingkat kesulitan permainan ini yang cukup tinggi dan cukup menyakitkan. Para pemain harus bisa tahan dengan bola fiber yang berukuran sekitar 20 cm ini jika tiba-tiba mengenai wajah mereka.
Lukman, salah seorang pelatih sepak takraw untuk wilayah DKI Jakarta mengatakan memang tidak banyak para generasi muda yang bercita-cita menjadi atlet sepak takraw. “Jangankan untuk menjadi atlet, peminat olah raga ini dari segi penonton saja juga belum banyak. Artinya, olah raga ini belum bisa menyedot penonton yang cukup banyak. Tidak seperti sepak bola dan bulu tangkis”. Ungkap Lukman.

Akan tetapi, upaya untuk menarik masyarakat terhadap olah raga ini terus dilakukan. Salah satu yang menarik adalah dengan mengadakan pertandingan sepak takraw di sebuah mall. “Mall kan memang tempat kumpulnya banyak orang. Paling tidak para pengunjung mall sedikitnya bisa menyaksikan pertandingan sepak takraw secara langsung. Saya yakin banyak di antara mereka yang tertarik”. Jelas Lukman yang baru-baru ini membawa kontingen Jakarta dalam kejuaraan sepak takraw tingkat SMP di Bengkulu beberapa waktu lalu.

Sebagian orang memang banyak yang menilai bahwa olah raga cukup dijalani sebagai hobi. Akan tetapi, jika hobi tersebut dijalani secara serius, bukan tidak mungkin bisa memberikan keuntungan secara finansial. Seperti yang diungkapkan Galuh (20 tahun). Perempuan muda ini berkeinginan kuat untuk bisa menjadi atlet sepak takraw yang mendunia. “Pengalaman paling menarik adalah ketika saya ikut memperkuat tim merah putih pada Asean Beach Games kemaren untuk cabang sepak takraw putri. Alhamdulillah bisa dapat satu emas dan satu perak”.
“jika dibandingkan dengan Thailand, sepak takraw kita memang masih bisa dikatakan tidak terlalu menonjol. Akan tetapi, kita terus melakukan pengkaderan dengan memberikan program latihan yang optimal bagi atlet. Sehingga nantinya sepak takraw kita (Indonesia-red) bisa disegani di Internasional.

0 komentar: